ASAL USUL TAMAN ISMAIL MARZUKI, RUMAH PARA SENIMAN JAKARTA

ASAL USUL TAMAN ISMAIL MARZUKI

Sembari menyuruput kopi pagi, saya membuka-buka internet. Terlihat beberapa iklan termasuk iklan m88 asia. Namun, saya tertarik mengunjungi iklan terkait taman ismail marzuki. Berikut ini sejarah taman ismail marzuki.

Pada Suatu pagi yang cerah, bang Ali Sadikin menemui tiga orang tamu sebelum ia berangkat kerja di rumahnya, yaitu Ajip Rosidi, Ilen Surianegara, dan Ramadhan K.H. Ketiga orang ini membawa gulungan kertas yang di isinya tercantum bagan mengenai cita-cita dan impian semua seniman yang diciptakan oleh seorang pelukis bernama Oesman Effendi.

Nantinya, hasil pertemuan tersebut akan menjadi histori dalam sejarah perjalanan semua seniman Jakarta. Seketika itu juga, Bang Ali Sadikin, atau sering dipanggil akrab Bang Ali, teringat seniman-seniman yang biasa berada di daerah Pasar Senen. Mereka pun menanyakan eksistensi mereka.

“Para seniman ini tak lagi berkumpul,” Ajip menjawab. Sebagai seorang Gubernur Jakarta yang provinsinya tengah mengembangkan berbagai hal, Bang Ali pun ingin Jakarta menjadi pusat kebudayaan. Bagi bang Ali, Jakarta yang sering kali sibuk dengan geliat ekonomi akan membuatnya gersang. “Kota ini akan jadi gersang andai rohani tak dikembangkan. Kesenian di jakarta harus hidup, tumbuh, serta berkembang di tengah hiruk pikuk,” ucapnya dalam Bang Ali dalam bukunya Demi Jakarta 1966-1977 (1992).

Bang Ali lalu menyuruh para seniman berkumpul dan membicarakan urusan tersebut secara mendetail. Dan akhirnya muncul kesepakatan baru: pusat kesenian nantinya bakal dibangun di jantung ibukota Jakarta. Awalnya, tim akan terdiri dari Asrul Sani, Usmar Ismail, Mochtar Lubis, Pirngadi, Gayus Siagian, Zulharmans, dan Jayakusuma. Para seniman ini bertugas merangkai kepengurusan dari Dewan Kesenian Jakarta atau disingkat menjadi DKJ. Kemudian, DKJ terbentuk dan Trisno Sumardjo menjadi ketuanya.

Tanggal 7 Juni 1968, Ali Sadikin meresmikan DKJ yang anggotanya terdiri dari 25 orang. Semula, Bang Ali Sadikin ini beranggapan para seniman ini tak bakal bisa mengurus dan membuat pusat kesenian yang segera didirikan ini. Menurut pendapat bang Ali Sadikin, semua seniman ialah jenis orang-orang yang tak akan dapat mengurus hal lainnya, karena mereka sendiri tak pandai mengurus diri sendiri.

Namun, Ajip Rosidi meyakinkan bang Ali Sadikin bahwa seniman-seniman tersebut akan dimintai pertanggungjawaban sesudah diberi tanggungjawab ini dan dana, Bang Ali akhirnya setuju. Bang Ali berkomitmen, sebagai gubernur ia tak akan mencampuri urusan pengelolaan pusat kesenian Jakarta ini.

Pemerintah provensi DKI Jakarta lalu menyediakan kemudahan dan juga dana. Bagi Bang Ali, seniman harus diberikan peluang untuk berkembang dengan segala impian, fantasi, angan-angan, fiksi, dan khayalannya. Kemudian, bang Ali menantang seniman-seniman.

Akhirnya, pada tanggal 10 November 1968, Bang Ali Sadikin meresmikan Taman Ismail Marzuki. Acara kesenian dilangsungkan selama tujuh hari sebagai penyambutannya. Ada gending karesmen Sunda, drama, pameran arsip kesusastraan Indonesia, konser dengan solis Iravati Sudiarso, pameran lukisan anak-anak, dan lain sebagainya.