Tari Jaipong: Keindahan Seni Jawa Barat

Tari jaipong merupakan seni tari yang berasal dari Jawa Barat. Seni tari ini telah banyak dikenal di seluruh penjuru negeri dan banyak ditampilkan di mancanegara. 

Tari jaipong banyak ditampilkan pada acara-acara perayaan, dari acara pernikahan hingga acara resmi pemerintah. Jaipong telah menjadi lambang budaya Jawa Barat, dan juga menjadi andalan untuk ditampilkan untuk menyambut tamu internasional.

Tari ini mulai populer di Indonesia pada tahun 1980an. Tari jaipong berasal dari kesenian Ketul Tilu dari Jawa Barat. Awalnya tari jaipong diciptakan pada tahun 1970an oleh seorang seniman yang berasal dari Karawang bernama H. Suanda. Kemudian H. Suanda merekam instrumen pengiring tari jaipong dalam sebuah kaset. Musik instrumen pengiring ini menggunakan alat musik tradisional Jawa Barat seperti gong, kendang, rebab, dan dengan alunan suara merdu sinden.

Ternyata kaset yang diciptakan H. Suanda ini mendapat respon yang positif dari masyarakat Karawang, dan mulai digunakan pada acara-acara perayaan.

Tari jaipong lalu dipopulerkan oleh seniman dari Bandung yang bernama Gugum Gumbira.

Karya  tari jaipong pertama ciptaan Gugum Gumbira yang banyak dikenal masyarakat luas diantaranya adalah tari bertajuk “Rendeng Bojong” serta “Daun Pulus Keser Bojong”. Gugum Gumbira juga merilis beberapa tari jaipong terkenal pada tahun 1980an seperti Setra Tari, Toka-toka, dan lain-lain.

Tari jaipong dapat dimainkan oleh seorang penari untuk menghibur khalayak, atau dapat juga dimainkan berpasangan, dan berkelompok. Tari ini memiliki gerakan tangan, bahu, dan pinggul yang atraktif dan dinamis.

Pakaian yang dikenakan penari jaipong biasanya adalah atasan kebaya berwarna cerah dan bawahan berupa kain batik. Rambut penari biasanya disanggul dan berhias mahkota. Penari juga menggunakan selendang sebagai pelengkap gerakan tarinya.

Gerakan tari jaipong yang meliuk dan kadang terkesan sensual sempat menuai kontroversi. Namun hal ini membuat tari jaipong semakin viral dan banyak diekspos media. Salah satunya adalah TVRI yang memiliki program khusus untuk menayangkan tari jaipong di tahun 1980an. Setelah itu tari jaipong semakin terkenal ke seluruh penjuru nasional.

Tari jaipong adalah kekayaan nusantara yang harus dijaga eksistensinya. Saat ini banyak sanggar tari yang masih aktif melestarikan tari jaipong, terutama di Jawa Barat. Bahkan baru-baru ini TNI kota Sumedang Jawa Barat menyelenggarakan pentas seni Jaipong yang diikuti oleh puluhan penari jaipong dari sanggar tari di Sumedang. Acara ini diselenggarakan sebagai upaya untuk melestarikan tari jaipong sebagai kekayaan seni daerah.

 

 

Batik Trusmi: Kekayaan Seni dari Kota Cirebon

Batik merupakan salah satu kekayaan budaya dan seni Indonesia yang tak lekang oleh waktu. Seni batik sudah ada di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu, khususnya di daerah Jawa. Salah satu daerah penghasil batik dengan corak khas adalah daerah Trusmi di kota Cirebon, Jawa Barat. Daerah ini terkenal dengan corak batik mega mendung yang kini semakin populer.

Corak batik Trusmi telah ada sejak abad ke 14. Pada saat itu, Sultan Gunung Jati memesan batik kepada pengrajin dari desa Trusmi, dan sultan sangat puas dengan batik hasil buatan orang Trusmi tersebut. Batik Trusmi lalu terkenal sebagai seni keraton karena seringnya sang Sultan memesan batik kepada pengrajin batik di Trusmi. Sultan Cirebon pun mengakui bahwa pengrajin batik dari desa Trusmi adalah yang terbaik.

Pada masa kesultanan ini, motif batik Trusmi yang terkenal diantaranya adalah Taman Kasepuhan, Paksi Naga Liman, Siti Inggil, dan Kanoman.

Lama kelamaan, batik Trusmi menyebar ke kalangan penduduk biasa, tidak hanya untuk keraton.

Setelah masa kemerdekaan, penduduk Trusmi mendirikan koperasi batik Trusmi pada tahun 1955. Saat itulah batik Trusmi semakin dikenal di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga ke mancanegara.

Perkembangan batik Trusmi mengalami peningkatan pesat di tahun 1990an. Di masa ini banyak pengusaha yang mendirikan toko batik di pinggir jalan desa Trusmi. Saat ini, jumlah toko batik ini semakin banyak jumlahnya, dan menjadi salah satu tujuan wisata di kota Cirebon.

Perkembangan lain yang sangat signifikan bagi batik Trusmi adalah pada tahun 2009, saat batik Indonesia diakui UNESCO secara resmi. Jumlah pengrajin dan toko batik di Trusmi pun semakin meningkat, hingga saat ini mencapai 190 outlet batik di desa Trusmi.

Pada tahun 2013 setelah dibukanya Tol Cikopo – Palimanan, semakin banyak pelancong domestik yang menjadikan Cirebon sebagai tujuan wisata. Hal ini tentunya semakin mendongkrak popularitas batik Trusmi sebagai salah satu oleh-oleh khas kota Cirebon.

Namun mulai Maret 2020, batik Trusmi pun terdampak efek Covid 19 dan mengalami penurunan popularitas dan penjualan yang cukup signifikan. Jumlah outlet yang tetap buka selama masa pandemi tidak mencapai 50% dari saat sebelum pandemi. Outlet batik yang masih buka pun mengalami penurunan omzet hingga 70%. Saat PSBB, tak ada lagi wisatawan yang menyambangi desa Trusmi. Banyak pengrajin batik yang terpaksa dirumahkan.

Memasuki akhir kuartal ke 3 tahun 2020, batik Trusmi Cirebon mengalami peningkatan meskipun perlahan. Semoga kondisi pandemi ini segera berakhir dan mari kita selalu melestarikan seni budaya lokal yang satu ini.