Damien Dematra

Nama :

Damien Dematra

 

Lahir :

Manado, 25 Februari

Sulawesi Utara

 

Pendidikan :

New York Institute of Photography

 (Amerika Serikat),

International Business and Politics University of Western Sydney (Australia),

 Filsafat Teologi dari International Seminary (Amerika Serikat)

 

Aktifitas Lain :

Penggagas dan koordinator nasional Gerakan Peduli Pluralisme (2010)

Pendiri International Film Festivals for Peace, Inspiration, and Equality /IFFPIE (2011),

Pendiri International Film Festival for Environment, Health, and Culture/IFFEHC (2012),

Pendiri International Film Festival for Comedy, Romance, and Musical/IFFCRM (2012),

Pendiri dan director International Film Festival for Spirituality, Religion, and Visionary/IFFSRV (2012),

Pendiri Gerakan Artis Indonesia Berpeduli (GAIB),

Pendiri FFA/Film Festivals Alliance (2013),

Pendiri dan director International Peace Ambassadors/IPA,

Pendiri World Humanitarian Award,

Ketua Gerakan Nasional Menulis/GNM,

Pendiri iHebat International Volunteers

 

Pencapaian di bidang film, diantaranya :

Sutradara Terbaik untuk kategori film 35mm, Sutradara Film Asing Terbaik, sutradara Film Terbaik melalui film SI Anak Kampoeng pada American International Film Festival di Amerika Serikat (2011),

Penulis Skenario terbaik melalui film I’M STAR di Indie Fest (2013),

Award of Excellence kategori Sutradara Terbaik dan Award of Merit kategori Cinematography melalui film Let’s Play Ghost dari Indie Fest Film Festival, California, Amerika Serikat (2013),

Awards of Merit kategori penyutradaraan melalui film I’M STAR pada Colorado International Film Festival di Amerika Serikat (2014),

Skenario terbaik melalui film I’M STAR dari Oregon International Film Awards di Amerika Serikat (2014),

Award of Excellence untuk sutradara melalui film Let’s Play Ghost di Accolade Competition, San Diego, California, Amerika Serikat (2014),

Best Directing of a Foreign Language Feature Film dan Best Director of a Foreign Language Film melalui film Let’s Play Ghost di St. Tropez International Film Festival, Perancis (2014),

The Star dari IndonesiaSatu Award (2014),

Pembuat film tercepat di dunia dari skenario sampai premier dalam 9 hari 17 jam dan 45 menit

 

Pencapaian di bidang lain, diantaranya :

Fellowship di bidang Portraiture dan Art Photography dari Master Photographer Association,

International Master Photographer of the Year, Grand Award winner WPP,

Penulis tercepat di dunia, Penulis novel yang diterbitkan tercepat di dunia,

 Fotografer tercepat di dunia, Pelukis tercepat di dunia, Penulis buku tertebal di dunia,

Penghargaan dari Raja Kutai Mulawarman atas kontribusinya bagi perdamaian dunia (2013)

 

Filmografi, diantaranya :

Obama Anak Menteng,

Si Anak Kampoeng,

Dream Obama,

L4 Lupus,

Mama,

Aku Harus Pergi,

I’M STAR,

Captain Jihad,

Obama and Me,

Ramadhan untuk Sakinah,

Sehari Bersama Gus Dur,

Let’s Play Ghost,

Dorce Vs Hantu,

The Tears of Ghost,

Dream,

Angel,

From Seoul to Jakarta,

 

Karya tulis, diantaranya :

Yogyakarta,

Obama dari Asisi,

Si Anak Panah,

Ketika Aku Menyentuh Awan, Obama Anak Menteng

Si Anak Kampoeng (sebuah novel yang diangkat berdasarkan kisah nyata Buya Syafii Maarif),

Doa untuk Gus Dur,

Sejuta Hati untuk Gus Dur, Ternyata Aku Sudah Islam (novel yang terinspirasi kisah nyata grup musik Debu),

Demi Allah, Aku Jadi Teroris,

Tuhan, Jangan Pisahkan Kami, Soulmate-Belahan Jiwa, Angels of Death-Kumpulan Kisah Malaikat Maut,

If Only I Could Hear-Kisah Suara Hati,

Kartosoewirjo: Pahlawan atau Teroris,

Mahaguru,

King of the Sun: Majapahit, Gajah Mada,

Love Story,

Tarian Maut (Katyana),

Ku Tak Dapat Jalan Sendiri (Mark Andrew)

Seniman Film

Damien Dematra

Pria kelahiran 25 Februari di Manado, Sulawesi Utara ini, di kenal sebagai seorang seniman serba bisa yang aktif di sejumlah bidang pada disiplin seni yang berbeda seperti film, sastra dan seni rupa.

Sebagai sineas, lulusan New York Institute of Photography, Amerika Serikat dan International Business and Politics University of Western Sydney, Australia serta Filsafat Teologi dari International Seminary, Amerika Serikat ini, tercatat telah menghasilkan kurang lebih 60 skenario film dan serial televisi, memproduksi 32 film dalam berbagai genre, diantaranya: ‘Obama Anak Menteng’‘Si Anak Kampoeng’‘Dream Obama’‘L4 Lupus’‘Mama’‘Aku Harus Pergi’‘I’M STAR’‘Captain Jihad’‘Obama and Me’‘Sehari Bersama Gus Dur’‘Let’s Play Ghost’‘Dorce Vs Hantu’‘The Tears of Ghost’‘Dream’‘Angel’‘From Seoul to Jakarta’, dll.

Tidak heran jika sejumlah penghargaan bergengsi telah diperolehnya dari berbagai festival film di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia, diantaranya film besutannya ‘Si Anak Kampoeng’ meraih penghargaan sebagai The Best Film pada Interculture International Film Festival di Perancis (2011). Film yang sama juga meraih penghargaan untuk kategori Film Asing Terbaik, Sutradara Terbaik untuk kategori film 35mm, Film Terbaik untuk kategori film 35mm, Sutradara Film Asing Terbaik, Sutradara Film Terbaik, dan Film Cerita Terbaik pada American International Film Festival di Amerika Serikat (2011). Tidak hanya itu, film ‘Si Anak Kampoeng’ kembali menyabet penghargaan lewat Skenario terbaik dan Award of Excellence pada Los Angeles Movie Awards (2011). Tahun 2012, film ‘L4 Lupus’ karyanya meraih penghargaan Awards of Excellence pada Los Angeles Movie Awards.

Film layar lebarnya yang lain ‘I’M STAR’ yang bertutur tentang perjuangan anak-anak penderita autis yang diperani remaja-remaja berkebutuhan khusus personel grup band I’M STAR (Arya, Abhy, Ervitha, Shinta), juga meraih penghargaan di luar negeri. Di luar negeri, sempat diekshibisikan pada pameran film MIPCOM di Cannes, Perancis, dan American Film Market (AFM) di Los Angeles, Amerika Serikat, tahun 2012. ‘I’M STAR’ meraih tiga penghargaan dari Indie Fest (2013) di Amerika Serikat, sebagai film cerita panjang terbaik dan aktris terbaik (Natasha Dematra), dan penulis skenario terbaik (Damien Dematra).

Tahun 2014, film ‘I’M STAR’ juga meraih Grand Jury Award dari Colorado International Film Festival, Awards of Excellence dalam kategori film cerita panjang (feature film) dan pemeran wanita utama (leading actress) untuk Natasha Dematra, serta Awards of Merit dalam kategori penyutradaraan untuk Damien Dematra. Dari Accolade Global Film Competition, California, Amerika Serikat, Gold Award untuk Natasha Dematra dalam kategori pemeran wanita utama dan Silver Award dalam kategori penyutradaraan untuk Damien Dematra. Film ini juga berhasil meraih penghargaan melalui kategori skenario terbaik dari Oregon International Film Awards (2014).

Di tanah air, ‘I’M STAR’ terpilih sebagai salah satu film yang diputar dalam APEC Unthinkable Film Festival 2013 pada 3-5 Oktober 2013 untuk tayang bersama film-film lain dari negara-negara APEC. Film ini juga sempat dan mencerahkan para guru se-DKI Jakarta Jakarta dari tingkat TK sampai dengan SMA pada Mei 2012 di Smesco Convention Hall. Personel grup musik I’M STAR (Arya, Abhy, Ervitha, Shinta) juga diterima dan tampil di hadapan Ibu Ani Yudhoyono di Istana Negara dalam peringatan Hari Peduli Autis Sedunia 2014.

Sedangkan film garapannya ‘Let’s Play Ghost’ meraih sejumlah penghargaan pada sejumlah festival film antara lain Nevada International Film Festival, Las Vegas, Amerika Serikat, memberikan penghargaan Gold Reel Award 2013 dalam kategori Best Feature Film. Indie Fest Film Festival, California, Amerika Serikat (2013) memberikan 5 penghargaan: Award of Excellence dalam Film Cerita Panjang Terbaik, Sutradara Terbaik (Damien Dematra), Pemeran Utama terbaik (Natasha Dematra), Award of Merit dalam kategori Cinematography (Damien Dematra) dan Editing (Irene Christina dan Virda Anggraini). Di Alaska International Film Awards, Alaska, Amerika Serikat (2014), mendapat penghargaan sebagai Film Cerita Terbaik (Best Narrative Feature).

‘Let’s Play Ghost’ juga kembali mendapat penghargaan Award of Excellence untuk sutradara Damien Dematra, Award of Merit untuk kategori film panjang, Natasha Dematra sebagai pemeran utama, dan Irene Christina dan Virda Anggraini sebagai editor di Accolade Competition, San Diego, California, Amerika Serikat (Mei 2014). Pada bulan yang sama, St. Tropez International Film Festival, Perancis, memberikan nominasi Best Directing of a Foreign Language Feature Film (Sutradara Damien Dematra), Best Foreign Language Film, dan Best Director of a Foreign Language Film (Sutradara Damien Dematra). Madrid International Film Festival, pada bulan Maret 2014 juga mencalonkan film ini sebagai unggulan dalam kategori Best Film, Best Director (Damien Dematra), Best Producer of a Feature Film (Damien Dematra), Best Feature Film, dan Best Supporting Actress (Kayla Atilla).

Keperduliannya terhadap dunia film juga mendorongnya mendirikan International Film Festivals for Peace, Inspiration, and Equality (IFFPIE) pada 2011. Di tahun berikutnya, ia mendirikan International Film Festival for Environment, Health, and Culture (IFFEHC), International Film Festival for Comedy, Romance, and Musical (IFFCRM), dan International Film Festival for Spirituality, Religion, and Visionary (IFFSRV), dan menjadi director festival tersebut. Ia juga mendirikan Gerakan Artis Indonesia Berpeduli (GAIB) untuk menggalang artis-artis Indonesia berpeduli. Tahun 2013, ia mendirikan program aliansi festival-festival, FFA (Film Festivals Alliance), yang didedikasikan bagi para sineas. Ia juga adalah founder dan director International Peace Ambassadors (IPA). Tahun 2014, ia  menjadi satu-satunya filmmaker yang menerima penghargaan The Star dari Indonesi Satu Award atas prestasi yang luar biasa dalam industri perfilman dan kontribusi yang luar biasa untuk perdamaian.

Kemampuannya dalam dunia fotografi juga tidak perlu diragukan lagi. Tercatat ia pernah memperoleh dua gelar tertinggi fotografi, Fellowship di bidang Portraiture dan Art Photography dari Master Photographer Association, dan berbagai penghargaan internasional, di antaranya International Master Photographer of the Year, dan Grand Award winner WPPI.

Di dunia sastra, ia dikenal sebagai penulis yang produktif, melahirkan sejumlah karya dengan berbagai genre, karyanya dalam bentuk novel telah tersebar di mancanegara. Novel yang ditulisnya tersebut selalu dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Novel yang pernah di tulisnya tersebut antara lain: ‘Yogyakarta’‘Obama dari Asisi’‘Si Anak Panah’‘Ketika Aku Menyentuh Awan’‘Obama Anak Menteng’‘Si Anak Kampoeng’ (sebuah novel yang diangkat berdasarkan kisah nyata Buya Syafii Maarif), ‘Sejuta Doa Untuk Gus Dur’‘Sejuta Hati Untuk Gus Dur’‘Ternyata Aku Sudah Islam’ (novel yang terinspirasi kisah nyata grup musik Debu), ‘Demi Allah, Aku Jadi Teroris’‘Tuhan, Jangan Pisahkan Kami’‘Soulmate-Belahan Jiwa’‘Angels of Death-Kumpulan Kisah Malaikat Maut’, ‘If Only I Could Hear-Kisah Suara Hati’‘Kartosoewirjo: Pahlawan atau Teroris’‘Mahaguru’‘King of the Sun: Majapahit’‘Gajah Mada’‘Love Story’, dll. Ia juga menulis dua buah novel lainnya yang menggunakan nama lain, ‘Tarian Maut’ (Katyana) dan ‘Ku Tak Dapat Jalan Sendiri’ (Mark Andrew).

Sedangkan di dunia seni rupa, ia di kenal sebagai pelukis yang telah menghasilkan ribuan karya lukis dan sketsa, di antaranya 365 lukisan yang diselesaikan dalam waktu satu tahun, dan telah melakukan empat kali pameran tunggal. Salah satu lukisannya tentang Obama, telah diterima secara resmi oleh Presiden Barack Obama di White House, Amerika Serikat

Profil dan karya-karyanya di dunia film, sastra dan senirupa banyak diangkat oleh berbagai media internasional, seperti: Time, CNN, The Wall Street Journal, BBC, AP, AFP, Reuters, USA Today, ABC, New York Times, Washington Post, Los Angeles Times, Channel News Asia, Al Jazeera TV, NHK Jepang, KBS Korea, TV3 Malaysia, Iran TV, dll.

Karena kemampuannya di dunia film, sastra dan senirupa, pria penyuka warna hitam itu, kini tercatat sebagai memegang 13 rekor dunia, antara lain sebagai penulis tercepat di dunia, penulis novel yang diterbitkan tercepat di dunia, fotografer tercepat di dunia, pelukis tercepat di dunia, penulis buku tertebal di dunia, pembuat film tercepat di dunia dari skenario sampai premier dalam 9 hari 17 jam dan 45 menit, dll.

Tahun 2013, ia memperoleh penghargaan dari Raja Kutai Mulawarman atas kontribusinya pagi perdamaian dunia. Juga mendirikan World Humanitarian Award dan bekerja sama dengan IFFPIE, menganugerahkan penghargaan Bapak Inspirator 2014 kepada Presiden Republik Indonesia 2014-2019 yang diterima langsung oleh Jokowi di kantornya. Setelah sebelumnya pernah menjadi inisiator ‘A Salute to Jokowi’, sebuah rentetan acara berskala internasional untuk merayakan kemenangan Presiden Jokowi. Ia juga mendirikan iHebat International Volunteers yang bertujuan mempromosikan ekonomi kreatif Indonesia ke berbagai penjuru dunia.

Menjadi penggagas dan koordinator nasional Gerakan Peduli Pluralisme yang dicetuskan pada Februari 2010 untuk memberi apresiasi terhadap perjuangan pluralisme Buya Ahmad Syafii Maarif dan Gus Dur. Selain itu, ia juga menjadi ketua Gerakan Nasional Menulis (GNM).

Baru-baru ini filmnya ‘Si Anak Kampoeng’ meraih penghargaan kategori faith and Spirituality bersama film arahan sineas Rusia, Roman Khrushch yang berjudu; Pechorin di ajang San Fransisco Film Awards 2015

(Dari Berbagai Sumber)