Galeri Nasional

 

GALERI NASIONAL INDONESIA


Boleh dibilang sejumlah gedung kuno di Jakarta dan disejumlah kota lainnya di Indonesia adalah warisan kolonial Belanda. Salah satunya gedung kuno yang djadikan Galeri Nasional Indonesia (GNI) yang terletak di jalan Merdeka Timur 14 Jakarta Pusat.

Dalam sejarah ditahun 1817, gedung tersebut anemer GC van Rijk membangun sebuah Indische Woohuis diatas kavling ini dengan material yang diambil dari bekas Kasteel Batavia.

Baru pada tahun 1900 gedung ini merupakan bagian dari Gedung Pendidikan yang didirikan oleh yayasan Kristen atas prakarsa Carpenter Alting Stitching (CAS) yang bernaung dibawah Ordo van Vrijmeetselaren yang diprkarsai Ds. Albertus Samuel Carpentier Alting, tahun 1837-1935. Fashad gedung nan elok lagi megah ini berarsitektur Eropa, Gedung tersebut juga dipergunakan untuk asrama khusus bagi wanita sebagai usaha pendidikan yang pertama kali di Hindia Belanda.

Dipastikan pada zaman itu suasana dunia pendidikan dan dimanfaatkan sebagai asrama putri bagi noni-noni Belanda yang tinggal di Batavia (Jakarta) senantiasa ramai dengan ragam kegiatan mereka.

Awal Senyap Gedung KunoPada awal Indonesia Merdeka, suasana asrama wanita dan dunia pendidikan itu menjadi redup, sunyi seyap. Terutama saat awal kolonial Belanda bersama keluarganya pada pulang kampung ke negeri asal mereka, Nederland/Belanda, Kesenyapan makin terasa bahkan kondidisi bangunan indah itu menjadi redup dan kusam karena tidak terawat.

Yayasan Raden SalehPada tahun 1955, Pemerintah Republik Indonesia dibawah pimpinan Presiden Soekarno, melarang seluruh kegiatan pemerintah kolonial dan sebagian besar masyarakat Belanda yang masih tinggal di Indonesia. Beruntung masih ada beberapa orang Belanda menghendaki agar dunia pendidikan dan seni budaya bisa diselenggarakan kembali. Alhasil pemikiran sederhana itu disepakati pendukungnya. Maka segala sesuatunya disepakati. Kegiatan digedung itu dialihkan pengelolaannya kepada Yayasan Raden Saleh.

Saat itu Raden Saleh sudah banyak dikenal sebagai pelukis handal Indonesia yang banyak dikagumi dunia internasional. Raden Saleh menyambut tawaran tersebut. Sebagai pendamping untuk melaksanakan tugas itu Yayasan Raden Saleh bekerja sama dengan Yayasan Kristen Carpentier.

Dibawah kendali Yayasan Raden Saleh, kegiatan pendidikan dan seni budaya digedung tua itu menjadi lebih hidup. Tetapi lagi-lagi pemerintahan RI dibawah pimpinan Bung Karno, dengan tegas membubarkan gerakan Vijmetselaren Lorge, dan dilarang meneruskan kegiatannya. Sedangkan Yayasan Raden Saleh yang asyik melaksanakan kegiatannya diranah pendidikan, seni budaya dan kegiatan soaial lainnya ikutan dibubarkan. Peristiwa itu terjadi saat Yayasan Raden Saleh tengah nanjak bergiat melakukan pembenahan organisasi dan program yang dipandang mulia.

Tetapi nyatanya ikutan kecipratan nasib buruk, walaupun menurut catatan pelukis Baharuddin MS, Raden Saleh, keponakan Bupati Desa Tebayang, Semarang tidak pernah berkhianat terhadap bangsanya, Indonesia. Bahkan, Bung Karno, semasa hidupnya beberapa kali berziarah sekaligus merehab makam pelukis besar Raden Saleh di kampung Bondongan, Bogor, Jabar.

Berubah wajahGedung kuno bersejarah yang dibangun beberapa abad silam, kini kembali menggeliat. Dan menunjukan fashadnya yang kian elok. Tanda-tanda sentuhan tangan anemer Eropa itu masih terasa menempel diberbagai sudut dan ruangan gedung yang dilumuri nada garis artistik. Terutama setelah direhab kembali secara besar-besaran. Itulah gedung kuno yang pernah terlantar beberapa tahun silam. Paling menonjol ialah gedung induk yang disebut Gedung A menyimpan kesamaan ragam fashad seperti layaknya gedung-gedung yang didapati di Amsterdam. Elok nian.

Menyusul Gedung B bertingkat dua yang tempo dulu dimanfaatkan untuk ruang/kelas bagi murid HBS (setingkat SLTA). Ruang kelas itu berderet panjang dari arah barat ketimur. Kini bekas ruang kelas yang jumlahnya memadai juga dimanfaatkan sebagai pelengkap pameran. Boleh dibilang semua ruang yang tersedia baik yang posisinya berada dibelakang gedung induk (gedung A) dll, dimanfaatkan untuk gelar seni khususnya pameran lukisan, patung, dan sebagainya.

GNI & Lahar Keindahan SeniGedung kuno peninggalan zaman kolonial itu sudah rapi kembali. Setelah direhabilitasi secara menyeluruh dan mewujud sebagai lahar keindahan seni modern kontemporer. Mengalirkan lahar seni dirumah seni yang indah mewah tidak segampang membalikan telapak tangan. Tentulah untuk merehab kembali gedung kuno tersebut tidak semudah membalikan telapak tangan. Melalui berbagai perjuangan yang melelahkan. Tak pelak perjuangan itu tidak sia-sia, mewujud pada 1982.

Ada 5 target yang semuanya menonjol, tercatat target nomor 3 yang lebih mewujudkan Galeri Nasional Indonesia dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. GNI adalah sebagai salah satu pusat informasi dan aktivitas seni rupa dan menjadi media bagi terjadinya hubungan komunikasi antar perkembangan seni rupa dunia.

*** (Team Kreatif PKJ-TIM) ***