Jalan Surabaya Surga Para Kolektor Barang Antik

Jalan Surabaya Surga Para Kolektor Barang Antik

Keberadaan pasar antik di jalan Surabaya ini tidak diketahui secara pasti kapan waktunya. Diperkirakan para pedagang ini sudah ada dan berdagang di lokasi sejak sekitar tahun 1960-an. Sebelum ada pasar barang antik di sini dulunya pasar loak, yaitu tempat orang menjual barang-barang bekas seperti baju, celana, kipas angin dan sejumlah barang elektronik lainnya. Namun, sejak tahun 1971, mulai banyak para pedagang yang menjual barang-barang antik seperti alat-alat kapal, teropong, kompas, lampu, setir kapal, dan lainnya. Begitu juga dengan guci, porselin dan keramik. Seiring dengan berjalannya waktu banyak pedagang-pedagang yang berjualan barang-barang antik selain keramik.

Saat ini Jl. Surabaya telah menjadi salah satu objek wisata di Jakarta. Apalagi bagi para kolektor barang antik, tempat ini mempunyai arti tersendiri bagi mereka. Bukan saja dari kalangan umum, bahkan banyak para pejabat di Jakarta yang mondar-mandir di tempat ini untuk memenuhi hobi mereka. Pembeli yang berasal dari mancanegara pun juga ada. Biasanya para kolektor ini mencari barang antik yang lebih spesifik. Bahkan, pada tahun 1996, mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton pernah menyambangi tempat ini.

Puluhan kios barang antik berjejer disepanjang jalan tersebut. Selama kurang lebih dari tiga dasawarsa, sebelum krisis moneter tahun 1998, para pedagang banyak meraup keuntungan. Kebanyakan pembeli mencari barang-barang seperti porselen dan guci dari Cina. Namun, banyak juga yang membeli barang antik berupa alat-alat kapal, lampu hias, wayang kulit dan golek, serta ratusan barang antik lainnya, yang terbuat dari kuningan, tembaga dan lainnya. Barang-barang antik seperti porselin dan guci dari Cina kebanyakan didatangkan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Sedangkan barang antik alat kapal, lampu hias, kebanyakan berasal dari kapal-kapal asal Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia, Prancis, AS, Australia, Portugal dan lainnya. Bahkan sebagian pedagang, ada yang membeli dari para pedagang dan pengumpul barang antik di Tanjung Priok.

Selain itu pedagang juga banyak yang mendapatkan barang-barang dari rumahnya yang sudah tidak dipakai lagi namun bernilai antik. Untuk harga yang ditawarkan sangat bervariasi, mulai dari 5 ribu rupiah untuk aksesoris tubuh seperti gelang, 20 ribuan seperti wayang kulit sampai dengan 5 jutaan untuk guci Cina yang berukuran besar dan lampu hias besar. Bentuknya yang unik, nama negara barang antik berasal dan lama tahun pembuatan membuat harganya menjadi cukup mahal.

Kendati demikian, harga tersebut masih relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis barang antik serupa yang banyak dijual di mal-mal. Pintar-pintar menawar dan jeli melihat benda yang ingin dibeli menjadi keharusan ketika berbelanja di pasar ini. Beragam model lampu antik nan eksotik banyak sekali tersedia disini. Bila ingin hunting lampu hias di jalan Surabaya, sudah pasti kocek yang disediakan harus lebih tebal. Mau yang model tempo dulu, lengkap dengan ukiran khas sampai lampu produksi baru, semua ada di sini. Untuk lampu gantung, bahannya bermacam-macam. Ada yang dari besi, cor, kuningan atau tembaga. Dari ketiga materi tadi, nilai jual kuningan memang sedikit lebih mahal.

Selain barang-barang antik, jalan Surabaya juga menyediakan piringan hitam (PH). Disana ada sekitar 15 pedagang yang menjual PH. Disela-sela kios antik juga terdapat pedagang koper-koper traveller dan kotak besi besar. Pasar Antik Surabaya ini buka dari jam 9 pagi sampai 7 malam. Meski terlihat mahal. Namun harga-harga barang antik tersebut tidak dipatok mati, alias masih bisa ditawar. Dan mungkin inilah yang menjadi salah satu daya tarik tempat ini.

(Berbagai Sumber)