Jitet Koestana

 

Kartunis

Jitet Koestana

Jitet panggilannya, merupakan ejekan semasa kecil yang akhirnya menjadi pelengkap Koestono nama asli pemberian orang tuanya yang diubahnya menjadi Koestana agar terkesan dinamis. Anak pertama dari 4 bersaudara kelahiran Semarang, Jawa Tengah, 4 Januari 1967 ini, telah menyenangi kegiatan menggambar sejak kecil. Kala itu karena berasal dari keluarga kurang mampu, ia kerap menggambar di tanah atau pakai arang.

Ketika duduk di bangku STM, ia memutuskan untuk berhenti sekolah. Oleh kedua orang tuanya, ia kemudian dibuatkan sebuah kios kecil buku-buku bekas, untuk dirinya berjualan. Dari sanalah, ia kemudian berkenalan dengan orang-orang, termasuk teman yang sama-sama mempunyai hobi menggambar, salah satunya Slamet Baijuri, kartunis pemilik tokoh Bogel yang mengenalkannya pada komunitas kartunis di Semarang. Mulailah ia belajar seluk beluk kartun lebih dalam. Ia belajar jenis kertas, tinta, dan bagaimanaa cara mengirim karya untuk ikut lomba.

Karirnya terus menanjak saat ia mencoba peruntungan bekerja di media. Ia pernah mengisi kolom opini di sebuah koran daerah Semarang. Setelah setahun, ia kemudian ditawari lagi mengisi kolom Humor di koran Jawa Pos selama 3 tahun. Kemudian beralih ke Tabloid Gaya Sehat selama 5 tahun. Setelah itu menjadi ilustrator di Tabloid Senior, anak usaha Kelompok Kompas Gramedia

Pada akhirnya, sosok sederhana yang pernah merasakan kehidupan jalanan ini di minta oleh surat kabar harian Kompas untuk secara teratur mengisi kolom kartun politiknya menggantikan posisi GM Sudarta sebagai kartunis utama di Kompas melalui karakter Oom Pasikom. Perlahan tapi pasti, karyanya mulai mendapat tempat di Kompas serta sambutan hangat dari para pembaca. Kekuatan kartunnya adalah pada anatomi kartunal yang lebih real dengan eksagerasi yang minimalis namun efektif. Pewarnaan juga menunjukkan ketekunan dan totalitas dalam berkarya. Dari sisi esensi, karyanya menggambarkan sisi sosiokultural yang bersifat kontekstual dan cenderung satir. Pertama orang melihat keseluruhan maka orang tersebut akan berpikir dan merefleksikan apa yang ada di gambar dengan kenyataan yang tengah terjadi. Kekuatan kartun tidak hanya dengan humor yang membuat orang ketawa sampai jungkir balik, namun kartun yang didasari teknik yang oke dengan pewarnaan yang handal membuat enak dipandang. Lebih nikmat untuk dinikmati jika berasa situasi yang sedang berkembang dalam masyarakat

Tidak heran jika kemudian sejumlah karyanya banyak dilombakan dan dipamerkan di festival-festival tingkat internasional. Sejumlah penghargaan pun beberapa kali ia raih dalam kompetisi kartun internasional di antaranya tercatat di Museum Rekor Indonesia/MURI sebagai peraih penghargaan internasional terbanyak, yakni 36 buah (1998). Kemudian karyanya tampil sebagai peraih Grand Prize di ajang Seoul International Cartoon Festival – Korea Selatan (1997), Grand Prize di ajang Cordoba International Cartoon Festival – Spanyol (2000), Grand Prize di Syria International Cartoon Contest – Suriah (April 2005) dan kembali meraih Golden Prize di ajang The 9th  Kyoto International Cartoon Exhibition – Jepang (2010).

Selain sebagai kartunis, bapak empat anak ini juga menulis beberapa buku bersama beberapa penulis diantaranya ‘Jiddu Krishnamurti Revolusi’ (1999) yang di tulisnya bersama Darminto M. Sudarmo. ‘Indonesian Damn Good Cartoon – Kumpulan Kartun Juara’ (2010), yang di tulisnya bersama Arif Sutristanto, Didie SW, dan Thomdean. Selain itu, ia juga kerap di undang untuk menjadi tim juri Festival Kartun tingkat Internasional.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :

Koestono

Lahir :

Semarang, Jawa Tengah,

4 Januari 1967

Pendidikan :

STM (tidak selesai)

Karier :

Pengisi kolom Opini di sebuah koran daerah Semarang,

 Jawa Tengah,

Pengsisi kolom Humor di koran Jawa Pos,

Bekerja di tabloid Gaya,

Ilustrator tablod Senior,

Pengisi kolom kartun di Koran Kompas

Pencapaian :

Juara ke-2 kompetisi di Yugoslavia

Tercatat di Museum Rekor Indonesia/Muri)sebagai peraih penghargaan internasional terbanyak, yakni 36 buah (1998),

Grand Prize di ajang Seoul International Cartoon Festival – Korea Selatan (1997),

Grand Prize di ajang Cordoba International Cartoon Festival – Spanyol (2000),

Grand Prize di ajang Syria International Cartoon Contest – Suriah (April 2005),

Golden Prize di ajang The 9th  Kyoto International Cartoon Exhibition – Jepang (2010)

Karya Tulis :

Jiddu Krishnamurti Revolusi (buku, ditulis bersama Darminto M. Sudarno, 1999),

Indonesian Damn Good Cartoon – Kumpulan Kartun Juara (buku, ditulis bersama Arif Sutristanto, Didie SW dan Thomdean (2010)