MASJID AL-MUKARROMAH

Dulu Disebut Masjid Makam Keramat Kampung Bandan

* Pohon kurma berbuah lebat dihalaman Masjid Keramat Kampung Bandan, Jakarta Utara * Air tawar jernih melimpah tak pernah kering sepanjang zaman, beda dari sumur diseantero kampung Bandan dan sekitarnya,, asin rasanya * Tiang beton penyangga jalan layang TOL ambruk saat dibangun melintas diatas Masjid *


Masjid Jami Al Mukarromah, kampung Bandan, yang terletak di jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, dulu dikenal namanya Masjid Keramat Kampung Bandan. Didirikan oleh Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326 H). Alhamdulillah hingga sekarang masih banyak dikunjungi jamaah sekalian ziarah makam.

Daya magnit apa yang membuat jamaah/peziarah datang berduyun-duyun baik pada hari-hari biasa atau pada sholat Jumat, dan hari-hari besar Islam seperti Maulud, Syaban, Ramadhan, dll. Kini diera global pun tercatat sekitar 700 jamaah yang melaksanakan Sholat Jumat di Masjid tersebut. Sehingga sepanjang jalan Lodan Raya penuh dijejali mobil parkiran para jamaah.

Habib Alwi Bin Ali Asy-Syathri, pengurus Masjid Jami Al Mukarromah, mengatakan: Masjid tersebut didirikan sejak tiga abad silam, oleh ulama besar, Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri.

Fashad bangunan Masjid tampak sederhana, biasa-biasa saja. Tidak menunjukan keindahan kearsitekturan maupun kemegahan sebagaimana Masjid lainnya yang banyak bertebaran diberbagai tempat di Jakarta. Tetapi dibalik kesederhanaan itu justru geliat Masjid yang dibangun ditanah rawa dan semak belukar yang menakutkan, tiap tahunnya mencatat record jamaah yang melimpah.

Masjid Keramat Kampung Bandan masih menyimpan peninggalan sejarah masa lampau. Kendati sudah tiga kali dipugar, namun suasana abad ke 18 masih terasa. Terutama dari bagian bangunan yang masih tersisa di Masjid itu. Di antaranya 9 tiang penyangga bangunan Masjid yang masih asli. Kesembilan tiang penyangga itu memancarkan sesuatu yang unik dan kokoh.

Namun disekitar Masjid yang dibangun diatas tanah seluas 700 meter terasa agak gersang. Bahkan lahan untuk parkir sangat sempit. Ditaksir hanya mampu menampung 12 kendaraan roda empat. Terpaksa banyak mobil jamaah yang diparkir jauh dari lokasi Masjid. Kerepotan memarkir kendaraan roda empat ini khususnya terjadi pada saat dilaksanakan Sholat Jumat dan pada acara peringatan hari-hari besat Islam seperti Mauludan, Syaban, Ramadhan, Sholat Ied dll.

Guna menampung jamaah yang makin membludak, luas total ruangan Masjid ditambah bangunan baru. Baik dibagian depan, belakang, samping kanan dan kiri sehingga banyak menyita halaman menjadi sempit. Terlebih lagi batas dinding banguanan baru yang bersenggolan dengan tepi jalan aspal Lodan Raya yang banyak dilintasi kendaraan umum sepanjang hari, Tak pelak suara deru kendaraan yang berdesakan itu agak mengganggu.

Tetapi apapun kebisingan dari suara ragam kendaraan bermotor yang lalu lalang, sudah dianggap biasa. Belum lagi seputar Masjid yang dihimpit rumah tinggal penduduk yang berdesakan, termasuk warung nasi, warung kopi, toko kelontong, pasar kaget, bengkel mobil dan lain-lain terasa menyesakan tetapi tidak dianggap menjadi masalah. Semua tertutup oleh pesan dan kesan yang berurusan dengan sejarah perkembangan Masjid kuno yang saat ini telah berusia lebih dari 300 tahun.

Makam Keramat


Suasana makam ulama besar di komplek Masjid Al Mukarromah

Dikomplek Masjid terdapat Makam yang dikeramatkan, maksudnya dimuliakan atau mulia. Mengingat makam tersebut bukan sembarang makam tetapi makam Wali Allah yang Kharromah. Adalah makam ulama besar, dikenal sebagai Syiar Islam (penyebar agama Islam) di pulau Jawa. Yakni makam Habib Mohammad Bin Umar Al-Qudsi (wafat pada 23 Muharam 1118 H), disebelahnya makam Habib Ali Bin Abdurrahman ba Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122), dan makam Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326 H).

Masjid Keramat Kampung Bandan (Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan) didirikan oleh Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri pada tahun 1789, didekat makam kedua kerabatnya, di Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Pademangan, Jakarta Utara, yang dulu merupakan rawa-rawa, bersemak belukar, diseberang kali ancol, tak jauh dari pesisir pantai. Jakarta Utara. Kini wilayah itu banyak dihuni oleh penduduk.

Tembus pandangJarak pemisah antara Ruang Sholat di Masjid dengan Makam hanya 10 Cm. Berhimpitan dan hanya dibatasi penyekat pagar besi segede jempol jari ram-raman yang tembus pandang. Tinggi penyekat tembus pandang itu sektar 1 meter lebih sedikit. Sehingga jamaah yang sedang melaksanakan ibadah sholat dan zikir diruang Masjid secara langsung bisa memandang makam yang dikeramatkan.

Sejak lama hingga sekarang Masjid ini banyak dikunjungi peziarah dari berbagai kota di Indonesia. Bahkan peziarah dari mancanegara. Menurut Habib Alwi, selaku pengurus Masjid, setiap jamaah atau peziarah, yang datang perorangan maupun berkelompok, boleh berdoa dan zikir didepan makam selagi untuk tujuan baik dan bermanfaat. Mendoakan semoga Wali Allah, ulama besar, syiar Islam atau penyebar agama Islam yang mendapat Kharromah (yang dimuliakan atau yang mulia), diterima disisi Allah. Bahkan kata Habib Alwi, Nabi Muhammad pun mengizinkan jamaah/peziarah untuk melaksanakan doa makam demi kebaikan dan keselamatan, asal tidak minta sesuatu yang bukan-bukan, ujarnya.

Keunikan sejarahDi komplek Masjid Keramat Kampung Bandan atau Msjid Jami Al Mukarromah mulanya hanya ada 2 makam. Yaitu makam Habib Mohammad Umar Al-Qudsi dan Habib Ali Bin Abdurrahman BaAlwi. Kemudian bertambah 1 makam, yaitu makam Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Sathri, pendiri Masjid, yang wafat pada 18 Muharam 1326. Makamnya dijejerkan didekat 2 makam kerabatnya yang selama itu tidak diketahui dimana keberadaannya. Peristiwa itu mencatat sejarah panjang. Dimulai sebelum ditemukannya makam kedua kerabatnya. yang selama itu tidak diketahui dimana letak makam tersebut. Baru setelah Habib Abdurrahman mendapat Karromah dari Allah, makam kedua kerabatnya ditemukan ditanah rawa bersemak belukar. Makam tersebut diyakini sebagai makam kedua kerabatnya yang selama itu dicari dimana keberadaan Khalifah penyebar agama Islam di pulau Jawa.

Selain merawat makam yang baru ditemukan, Habib Abdurrahman membuat sebuah tempat persinggahan untuk berteduh dan sembahyang bagi para peziarah di makam tersebut. Makin banyak peziarah yang datang ke makam kedua wali tersebut, akhirnya Habib Abdurrahman mendirikan Surau sederhana. Dan surau itu dikenal dengan nama Masjid Keramat Kampung Bandan. Hingga sekarang Masjid Keramat kampung Bandan, yang dulu dibangun dengan bahan bangunan sederhana dihias kubah ala Timur Tengah yang tidak terlalu istimewa. Namun justru banyak dikunjungi jamaah.

Hingga saat ini pengurusan Masjid Jami Al-Mukarromah Kampung Bandan, dijabat oleh Habib Alwi Bin Ali Asy-Sathri. Ia adalah keturunan ke-5 dari. Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Sathri, pendiri Masjid.

Menurut Habib Alwi, jamaah boleh saja berdoa di makam Wali Allah dengan tujuan utama mendoakan agar wali Allah yang mendapat Kharromah (kemuliaan atau dimuliakan), sesuai keihlasan semasa hayatnya tak henti-hentinya menyebarkan agama Islam. Bahkan kata Habib Alwi, Nabi Muhammad, mengijinkan pezirah berdoda sambil memuliakan kemuliaan wali Allah. Asal jangan berdoa dan minta yang bukan-bukan.

Cagar Budaya

Karena kesejarahannya yang panjang dan unik, pada tahun 1972, Dinas Museum dan Purbakala Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mengakui/memasukan Masjid Keramat Kampung Bandan, menjadi salah satu cagar budaya yang bangunannya harus dilindungi. Sejak itu Masjid tersebut setiap satu dasa warsa dipugar agar tetap terjaga kelestariannya. Seiring dengan semakin dikenal dan banyaknya pengunjung Masjid maka pengurus Masjid itu menambah ruangan Masjid tersebut. Sejak itu mampu menampung sekitar 700 jamaah.

Tetapi menurut pengurus Masjid, sudah tiga kali dipugar. Pertama tahun 1979-1980, kedua tahun 1989-1990, yang terakhir tahun 2000-2001. Semua biayanya diperoleh dari subsidi Pemda DKI Jakarta. Tetapi kata Habib Alwi, Pemda DKI Jakarta, hanya memberikan dana untuk renovasi sepuluh tahun sekali, sedangkan untuk dana rutin, pengurus Masjid hanya mendapatkan dari infak Sholat Jum’at dan peziarah.

Kini telah melewati batas waktu sepanjang 13 tahun lamanya. Namun belum ada kabar kapan subsidi renovasi Masjid akan turun. Mengingat kondisi bangunan Masjid sudah sangat memprihatinkan. Sudah banyak yang rusak dan sudah saatnya mendapat perhatian Pemda DKI Jakarta. Bahkan papan nama yang terbuat dari kayu yang dipajang menghadap jalan Lodan Raya sudah rusak total. Mudah-mudahan Pemda DKI Jakarta merespon keprihatinan ini.

Yang unik & Menarik

Percaya atau tidak, kendati zaman telah berubah 360 derajat, dan kini berada diputaran era global, namun Masjid Keramat Kampung Bandan/ Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, masih menyiman keanehan yang menarik. Satu diantara 3 pohon kurma yang tumbuh dekat pintu gerbang Masjid, batangnya bolong blong dan tembus pandang dari segala arah, tetapi sepanjang tahun berbuah lebat, manis dan segar rasanya.

Sedangkan wilayah kampung Bandan dan sekitarnya terkenal dengan air sumurnya yang asin (mengandung garam), mana mungkin pohon kurma tumbuh disitu. Tetapi di komplek Masjid Keramat ini justru mengalir air dari dalam sumur yang tidak pernah kering sepanjang zaman. Rasa airnya tawar, sejuk-dingin dan bening. Asyik dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari.

Masjid ini juga punya cerita aneh dikalangan masyarakat. Pernah terjadi pada tahun 1994, ketika dilakukan pembangunan jalan layang TOL, Menurut Habib Alwi, rencananya sebagian halaman Masjid akan digusur untuk jalan layang tersebut. Dan jika terlaksana, letak Masjid tersebut nantinya akan berada dibawah jalan layang. Namun pada saat pembangunan tiang penyangga jalan tersebut patah dan ambruk. Pembangunan akhirnya dilakukan dengan cara manual, tetapi tetap saja tiang penyangga tidak bisa berdiri kokoh.

Keajaiban lain juga terjadi, saat itu para pekerja mengejar keterlambatan jalan TOL yang dirasakan sudah terlambat. Maka dengan tetap bekerja pada hari Jumat, tanpa menghiraukan himbauan pengurus Masjid untuk tidak melakukan aktivitas pembangunan pada hari tersebut. Akhirnya, semua yang sedang dikerjakan hancur dan menewaskan banyak pekerjanya. Menurut pimpro pembangunan jalan TOL ini, mereka tidak melihat ada Masjid ini pada saat itu melakukan penelitian dan pemotretan dari udara. Baru setelah kejadian ambruknya tiang penyangga yang menewaskan beberapa pekerja, pimpro tersebut datang ke Masjid Mereka baru mengetahui kalau Masjid itu keramat. Disitu ada makam keramat Wali Allah , Ulama besar, Khalifah, Syiar Islam yang mendapat Kharromah. Dan akhirnya sepakat untuk menggeser area jalan layang TOL ke sebelah selatan. Ungkap Habib Alwi, keajaiban besar yang dapat disaksikan banyak orang pada saat itu. ***