MASJID ISTIQLAL

MASJID ISTIQLAL

MERDEKA DIATAS BENTENG VOC


Bung Karno, tak hanya pemimpin besar anak bangsa. Popularitasnya sebagai pejuang bangsa menanjak dalam decade panjang sejarah dunia. Sebelum dan sesudah mengumandangkan teks proklamasi kemerdekaan RI 1945, perjalanan politiknya kian menembus ruang dan waktu. Berbagai tindakannya didalam menyemangati perjuangan bangsa mengejutkan berbagai negara Blok Barat. Itu diperlihatkan ketika Indonesia memutuskan keluar dari keanggotaan PBB.

Menyusul gagasan yang mencengangkan ketika Bung Karno, berhasil merangkul bangsa-bangsa Asia Afrika sebagai upaya memperkuat Blok Timur. Melalui ajang besar Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung 1955. membuktikan Presiden pertama RI, Ir Soekarno, menyandang kharisma luar biasa. Maka terbentuklah persatuan dan kesatuan solid yang siap menandingi Blok Barat. Bangsa-bangsa Asia-Afrika yang cinta damai merindukan persatuan yang dikumandangkan Bung Karno. Dalam tempo singkat dan solid terbentuk The New Emerging Forces (Kekuatan baru negara Asia Afrika) yang berpusat di Jakarta.

Dari sekian gagasan akbar, Bung Karno, berhasil membangun Masjid Kemerdekaan atau yang selama ini disebut Masjid Agung Istiqlal terjemahan dari bahasa Arab adalah tempat ibadah terbesar di Asia yang menempati areal tanah seluas 9. 32 hektar. Masjid Istiqlal berdiri megah diatas bekas benteng VOC, yang diratakan dengan dinamit pada 1957 dan baru dibangun secara keseluruhan tahun 1961-1978, atau selama lebih dari 17 tahun.

Di zaman kolonial Belanda, diseputar benteng VOC, terhampar Taman Wilhelmina, diwarnai hamparan bunga-bunga beraneka warna. Ketika bangsa Indonesia memasuki alam kemerdekaan, taman tersebut diganti menjadi Taman Wijayakusuma yang arealnya mencapai ujung Air Mancur Istiqlal hingga lapangan Monas.

Kunamakan Masjid Istiqlal atau Masjid Kemerdekaan. Dan saya, sebagai bagian dari rakyat Indonesia berdiri dibekas benteng VOC Belanda , yang kurubah menjadi tempat ibadah bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebagai rasa syukur atas kehendakNya, yang menganugerahkan Kemerdekaan bagi bangsaku yang cukup lama berjuang melawan penjajah dengan warna tetes darah dan air mata, tegas Presiden pertama RI, Ir Soekarno, pada upacara peletakan batu pertama, pertanda pembangunan MasjidIstiqlal/Kemerdekaan dimulai pada 24 Agustus 1951. Masjid Istiqlal diarsiteki Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

F. Silaban terpilih sebagai pemenang pertama sayembara merancang bangunan Masjid Istiqlal. Mengalahkan 29 peserta lainnya. Dari 30 peserta sayembara, dan terpilih 5 peserta yang memenuhi syarat. Masing-masing F.Silaban, mengetengahkan sandi Ketuhanan, kedua R. Oetoyo, dengan sandi Istigfar, ketiga Hands Groenewegen dengan sandi Salam. Keempat, lima mahasiswa ITB Bandung dengan sandi Ilham dan 3 mahasiswa ITB lainnya dengan sandi Khatulistiwa. Setelah diadakan penilaian terhadap lima karya tersebut, tim juri sepakat memilih sandi Ketuhanan karya F. Silaban, yang ditetapkan sebagai satu-satunya pemenang sayembara merancang bangunan Masjid Isiqlal.

Dewan juri sayembara rancang bangun Masjid Istiqlal, terdiri dari para arsitek dan Ulama terkenal . Pertama Ir Soekarno, selaku Presisiden RI pertama (ketua), didampingi 8 anggota juri lainnya. Ir Roeseno, Ir Djuanda, Ir Soewardi, Ir R Ukur Bratakusumah, Rd Soeratmoko, H Abdul Malik Karim Amrulah (HAMKA), H Abu Bakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

Masjid NegaraMasjid Istiqlal merupakan masjid negara Indonesia, yang mewakili umat muslim Indonesia. Karena memandang status terhormat , masjid tersebut menjadi kebanggaan bangsa Indonesia sekaligus menggambarkan semangat perjuangan dalam meraih kemerdekaan. Bahkan sebagai ungkapan dan wujud dari rasa syukur bangsa terhadap Allah SWT.

Bung Karno, sebagai tokoh bangsa mengusulkan lokasi Masjid Istiqlal supaya dibangun di Taman Wilhelmina, Weltevreyden Batavia (Jakarta Pusat) Disitu terdapat bekas bangunan kokoh yang dikenal sebagai benteng VOC, yang siap menghancurkan para pejuang kita yang datang menyerbu dari berbagai penjuru. Dilima sudut benteng, bagian atas maupun bawah, dilengkapi meriam yang moncongnya mengarah keberbagai sudut kota Batavia guna menbuyarkan musuh. Dibawah benteng, tepatnya dibawah tanah terdapat lorong-lorong rahasia yang panjang berliuk. Lorong terbuat dari adukan semen pasir dan batu-batuan yang dan keras. Hanya serdadu VOC yang mengetahui rahasia lorong. Mengamankan situasi dan harus kearah mana mereka keluar dan masuk benteng.

Bukan secara kebetulan, posisi Masjid Istiqlal berdampingan dengan Gereja Kathedral. Kedekatannya dengan Gereja, bukan sekadar simbol perdamaian. Tetapi agar tiap agama apapun di tanah air harus rukun, menjaga perdamaian. Saling menghormati, dan menghargai. Bekerja-sama, gotong royong tanpa kecurigaan. Semua ini harus diwujudkan demi menjaga kebersamaan. Bung Karno, berharap agar menjaga persatuan antar agama yang didasari Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di tahun 1957, usai Indonsia Merdeka, benteng kokoh itu siap dirobohkan dengan dinamit. Sebelum dilaksanakan penghancuran, warga Jakarta diberi kesempatan untuk melihat situasi benteng yang dilengkapi lorong-lorong bawah tanah benteng. Lorong-lorong setinggi badan manusia jangkung itu cukup lebar memudahkan tiap serdadu bergerak secara leluasa. Berliku, saat warga masuk kedalam benteng, lorong-lorong rahasia itu diterangi cahaya lampu listrik, sehingga secara jelas dapat melihat situasi lorong bawah benteng. Menurut petugas jaga benteng, lorong-lorong itu ada yang mengarah dan menerabas jalan bawah tanah yang panjang, Diantaranya ada yang menuju pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bahkan kendaraan militer pun bisa meliwati lorong tersebut.

Ruang Wisata IndahNah, dibekas areal benteng VOC itulah Masjid Istiqlal dibangun. Dengan gaya arsitek moderen dan tidak mengarah ke arsitek Timur Tengah, tetapi indah. Fungsi Masjid tak hanya sebagai tempat beribadah. Tetapi merupakan ruang-ruang apik untuk dikunjungi wisatawan. Selain mereka yang beragama Islam, ada juga rombongan wisatawan dari berbagai negara asing. Tetapi kebanyakan wisatawan asing yang pemeluk Islam.

Bolehkah warga Indonesia maupun asing non Muslim mengunjungi Masjid Istiqlal ? Boleh-boleh saja, yang penting mereka tidak merusak atau mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan buruk. Kitapun suka bergaul dengan mereka yang lain agama. Yang penting tujuan wisata mereka sekadar untuk menikmati betapa indahnya ruangan dalam Masjid yang indah. Kubah raksasa bergambar warna-warni, Ruang beribadat, yang serba luas dan terbuka, ungkap Drs H Mubarok M. Si, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal.

Anggaplah wisatawan non Islam itu sebagai tamu, yang harus dihargai dan dihormati. Belakangan ini khususnya dibulan suci Ramadhan, banyak wisatawan asing yang datang dari berbagai negara Timur Tengah, Amerika, Eropa, Asia, Jepang, korea Selatan, Philipina, dan lain-lainnya. Kalau hanya sekadar ingin tahu, berwisata melihat ruangan bagian dalam Masjid yang indah, sejuk, memesona dan melihat jamaah yang sedang sholat berjamaah atau sendirian, atau mereka yang sedang zikir, itu tidak apa-apa.

Beberapa negarawan asing, seperti Barak Obama, Bill Clinton, dan sejumlah negarawan dari berbagai negara didunia juga pernah berkunjung kesini, jelas H Mubarok. Jadi siapapun boleh-bleh saja mengunjungi Masjid Istiqlal, yang juga sudah banyak dikenal oleh warga dunia lainnya.

Posisi Masjid Istiqlal yang berdekatan dan berdampingan dengan Gereja Kathedral Jakarta, menunjukan perdamaian antar umat beragama. Maka kedekatan ini menjadi simbiol keharmonisan antar umat beragama di Indonesia. Kendaraan umat Kathlik yang merayakan misa hari besar keagamaan Katolik diperkenankan menggunakan lahan parkir Masjid Istiqlal. Sebaliknya saat umat Islam melaksanakan Sholat Ied, di Masjid Istiqlal, sejumlah besar umat Katolik Gereja Kathedral, juga membantu mengatur parkir. Dan mempersilahkan kendaraan umat Islam parkir dihalaman Gereja. Kerjasama semacam ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun.

Bagi wisatawan domestik maupun asing yang berniat datang untuk membaca buku-buku diperpustakaan Masjid atau yang ingin tahu sejarah perkembangan Islam di Indonesia dan sistem pengelolaan atau manajerial Masjid, akan didampingi pemandu. Bahkan sejumlah negarawan dari negeri asing yang pernah datang mengunjungi Masjid, lumayan banyak.

Memang banyak yang bisa dilihat ruangan Masjid yang begitu besar dan luas tapi indah, bersih dan nyaman. Di bulan suci Ramadhan, cukup meluap pengunjung yang tak henti-hentinya. Tua, muda, remaja, dan anak-anak menikmati sejuknya Masjid yang dikelola secara baik dan teratur. Mereka berdatangan bukan sekadar bermain-main atau sekadar tidur-tiduran, tetapi melaksanakan ibadah, sholat berjamaah, membaca Al- Quran, zikir, mengaji, dan diskusi mengenai keagamaan. Hampir ditiap ruang yang lebar dan terpisah-pisah itu menjadi lautan manusia. Siang dan malam selalu ramai tetapi mereka menjaga kesopanan dan tidak ribut-ribut.

Masjid Agung Istiqlal, yang maha luas dengan puluhan ruangan yang menghampar merupakan ruang yang nikmat untuk melaksanakan ibadah. Tetapi apa dan bagaimana sistem pengelolaannya ? Mudah saja, semua personil, karyawan senang bekerja dan rela kelelahan. Ada sekitar 250 karyawan yang merawat Masjid secara keseluruhan. Alhamdulillah para pegawai selalu menunjukan keihlasannya bekerja. Jumlah karyawan yang begitu banyak dibagi untuk berbagai bidang. Dari bagian kebersihan, dan kemanan bagian dalam maupun luar masjid selalu menunjukan kegairahan bekerja, karena luas dan besarnya masjid, membutuhkan penerangn (listrik) yang besar dan terpelihara. Tiap bulan pengeluarkan biaya tinggi. Belum lagi untuk menggaji karyawan sebanyak 250 orang. Pokoknya untuk pemeliharaan Masjid ini cukup besar. Biaya sebanyak itu didapat dari subsidi pemerintah. Selain itu, mendapat sumbangan dari perorangan dan dari beberapa pengusaha. Memang sudah pasti, memelihara benda gede harus disediakan biaya gede. Alhamdulillah, hingga sekarang aman-aman saja. Masjid negara so pasti mendapat perhatian dari negara maupun pengusaha . (TH)