Masjid Jami Al-Mansyur

Masjid Jami AL-MansyurSalah Satu Diantara Sejumlah Masjid Tertua di Batavia*Masjid Jami Al-Mansyur, Kampung Sawah Lio, Jembatan Lima Tambora, Batavia (Betawi/Jakarta Barat) merupakan basis perjuangan anak bangsa yang selalu berhasil memukul mundur pasukan tentara Belanda*

Abdul Malik, komandan pasukan berani mati ini adalah putra dari Pangeran Tjakrajaya, yang awalnya bergabung dengan tentara Mataram untuk berperang di Batavia. Sebagai seorang Muslim yang taat, Abdul Malik membangun Masjid di wilayah basis perjoangan di Kampung Sawah Lio Tambora, Jakata Barat sekitar abad 18 atau sekitar tahun 1130 H (1717 M). Tokoh pejuang Abdul Malik juga bertindak selaku juru Dakwah hingga akhir hayat menutup lembaran hidupnya.

Dua abad kemudian, Masjid tersebut berlanjut dibawah para juru Dakwah yang terdiri dari anak cucu keturunan Abdul Malik. Tetapi dua abad berikutnya antara tahun 1937 M, Masjid tersebuat berada dibawah pemeliharaan tokoh/ulama sekaligus pejuang bangsa yang gagah berani, yakni Kyai Haji Muhammad Mansyur bin H. Imam Muhammad Damiri.

Masjid yang kemudian terkenal dengan sebutan Masjid Jami Al-Mansyur, Kampung Sawah Lio, diawal Proklamasi Kemerdekaan RI digunakan sebagai basis mobilisasi pejuang sekitar Tambora Jakarta Barat, konon paling disegani penjajah Belanda. Sekali pernah tentara NICA Belanda menggempur Kampung Sawah Lio, karena di Menara Masjid Al-Mansyur terlihat Sang Saka Merah Putih berkibar-kibar yang sengaja dipasang oleh KH. Muhammad Mansyur. Gempuran senjata modern Belanda didepan Masjid Jami Al-Mansyur, diladeni pasukan pejuang dengan persenjataan apa adanya. Berkat lindungan Tuhan, tentara Belanda kocar-kacir lari menjauh dari Kampung Sawah Lio.

Hingga sekarang Masjid kuno tersebut masih berdiri kokoh walaupun sudah sekian puluh kali mengalami perbaikan karena rusak dimakan zaman. Fashad Masjid masih terlihat kekunoannya. Dilihat dari jarak yang tidak begitu jauh terlihat Menara Masjid yang seolah muncul dari muka bumi. Sosok menara berwarna kehijauan itu memancing pengunjung untuk melihat dari dekat. Terutama bagian ruang dalam Masjid. Ternyata masih tampak indah karena kekunoannya yang menarik keindahannya.

Dan bukan main, kerepotan pandangan mata pengunjung bila menatap dari luar dinding Masjid yang terkurung bangunan rumah tinggal yang padat penduduk. Tentulah tata ruang yang tempo dulu sangat indah sudah jauh beda dengan zaman kini.

Padahal, arsitektural Masjid Jami al-Mansyur, yang akulturasi budaya Jawa, China, Betawi dan Arab, beratap joglo , bukan main indahnya. Apa lagi bila mata menatap bagian ruang dalam Masjid, membuat pengunjung berdecak kagum.

Keaslian ruang dalam Masjid masih dapat dinikmati oleh setiap mata memandang. Ditengah ruangan Masjid tak jauh dari ruang Imam, terdapat empat pilar kokoh (sokoguru) yang menopang tangga tidur untuk berjalan, keempat pilar itu saling dihubungkan dibagian atasnya. Dizaman dulu ruang kosong yang dihubungkan dengan empat tangga empat pilar yang saling dihubungkan satu sama lainnya, digunakan untuk Muazin (Adzan) dan Qomat (pertanda sholat) akan dimulai. ‘Kenapa posisi Muazin atau Qomat, harus berada diatas?’, Iya begitulah, agar suara adzan dan Qomat dapat didengar oleh seluruh jamaah yang berada diruang Masjid. Sebab zaman dulu belum menggunakan pengeras suara, ujar ustad Fatahilah. Sedangkan, tangga kayu yang dihubungkan keempat sokoguru itu dulu digunakan untuk Qomat oleh Muazin untuk naik ke menara Masjid saat hendak mengumandangkan Adzan, ‘tambah Ustad Fatahilah’.

Beduk RaksasaUmumnya semua Masjid di Indonesia dulu menggunakan Beduk yang ditabuh sebagai pertanda datangnya saat untuk sholat. Atau bisa disebut sebagai alat komunikasi yang mengingatkan umat Islam untuk melaksanakan sholat. Tetapi diera global, benda tabuh itu sudah lama tersingkir walaupun masih ada yang memanfaatkan suara beduk yang berbunyi keras.. duk. duk.. duk dukkkkk

Beberapa Masjid agung di pulau Jawa hingga sekarang masih memanfaatkan beduk raksasa yang mengumandangkan suara bass. Diantaranya Masjid Agung Tjokronegoro 1 di Puworejo, Jateng. Juga disejumlah Surau kecil dikampung-kampung.

Di Masjid Jami Al-Mansyur, Kampung Sawah Lio, Jakarta juga masih menyimpan beduk berukuran lumayan besar dan kentongannya. Tetapi benda tabuh bersejarah itu diletakan dibagian belakang Masjid Jami Al-Mansyur sudah dipensiunkan.

Memang, nasib alat tabuh yang poluler dizaman kuno (zaman aku durung ono) sudah banyak yang tidak lagi digunakan. Zaman sekarang Masjid-Masjid kecil pun enggan menggunakan Beduk dan Kentongan Kebanyakan merasa lebih sreg Menggunakan pengeras suara. Konon masuknya alat tabuh (Beduk) kedalam Masjid karena pengaruh Laksamana Cheng Ho, seorang opsir Cina Muslim, yang bolak-balik berkunjung ke Indonesia pada kurun waktu 1405-1433. Mungkin karena sosok alat tabuh berupa Beduk lebih mirip tambur pada seni budaya China. (Team kreatif PKJ-TIM)

*** (Team Kreatif PKJ-TIM) ***