MUSEUM ASMAT

MUSEUM ASMATSuku Asmat Lahir dan Mati Ditengah Rimba*

Hutan bagi suku Asmat Papua Barat, adalah induk semang atau panutan yang mereka puja. Menurut keyakinan mereka, hutan belantara adalah inti kehidupan nomor wahid. Karenanya sejak orang Asmat dilahirkan hingga kematian, selalu dalam pelukan rimba belantara *


Mengunjungi Museum Asmat di Taman Mini Indonesia Indah, terkesan membanggakan. Sekaligus menjadi catatan penting yang sungguh mengikat. Mengapa? Masyarakat Asmat adalah saudara kita sebangsa-setanah air Indonesia. Mereka hidup terpencil dipedalaman, di pesisir pantai, ditanah hunian yang coklat.

Kendatipun hidup ditengah hutan, bukan berarti tidak kreatif dalam urusan sosial kemasyarakatan. Bekerja dan terus bekerja demi tuntutan kehidupan. Selain itu menciptakan berbagai benda seni budaya, mencari sesuatu untuk urusan perut. Bertani umbi-umbian, sayur-mayur, dan berburu babi hutan, ular, ikan laut, dll. Tetapi salah satu yang menonjol ialah keunggulan dalam hal karya cipta seni budaya pahat dan ukir sebagai bagian yang cukup lama tercatat memancarkan daya pesona. Ketika karya mereka dipamerkan diberbagai kawasan negara Eropa Barat 1989, ludes terjual. Menunjukan bahwa bangsa-bangsa lain di dunia menghargai karya seni budaya suku Asmat yang hidup terpencil dari keramaian teknologi modern.

Sejak 2002 wilayah Asmat, telah ditetapkan sebagai Kabupaten dalam propinsi Papua Barat. Beribukota di Distrik Agats. Sepanjang sejarah Papua Barat yang dulu disebut Irian Barat adalah milik syah Indonesia. Tetapi selama sekian abad berada dalam cengkeraman penjajah kulit putih (Belanda). Baru setelah kembali kepangkuan Ibu Pertiwi tahun 1963, Irian Barat ganti nama Irian Jaya kemudian berubah lagi dengan nama resmi Papua Barat hingga sekarang.

Mengada untuk adaMunculnya sejarah seni budaya pahat dan ukir dibumi Asmat, berawal dari kesetiaan mereka terhadap nenek moyang, yang dikenal dengan Mbis. Yakni nenek moyang yang telah meninggal akibat perang antar Suku. Jasa dan kepahlawanan sang nenek moyang atau Mbis sangat dihormati dan dipuja sepanjang masa. Lantas mereka mengada untuk ada (membuat dan menampilkan) gambaran sang nenek moyang dalam bentuk karya seni pahat patung kayu yang indah. Sosok patung yang mereka pahat itu menurut kepercayaan sebagai tempat tinggal sang nenek moyang.

Dari sisi artistik, karya seni pahat dan ukir mereka patut dibanggakan. Selain mencipta patung Mbis, juga memahat benda-benda lainnya yang digunakan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Semisal merajut pakaian yang dibuat dari kulit kayu, hiasan kepala dari bulu burung kaswari dan jenis burung hutan lainnya. Hiasan berupa kalung dan gelang yang dihias dengan ragam tulang belulang binatang, seperti tulang ikan dan biji-bijian kering.

Benda seni lainnya pun dibuat dengan keterampilan yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, Antara lain kemampuan membuat benda tajam seperti parang, tombak untuk berperang atau berburu. Membuat tameng/perisai yang diukir indah. Tameng kayu dipahat dan diukir ditambah polesan warna-warna sederhana dari getah-getahan kulit pohon, Tiga warna sederhana itu justru memunculkan keindahan. Seperti warna hitam dari arang kayu bakar, putih kapur dari kerang laut dan merah kecoklatan dari getah pepohonan, hasilnya indah dan menarik. Mereka terampil membuat busur berikut anak panah yang ujungnya diolesi racun berbisa.

Catatan unik menunjukkan saat dua kelompok Suku lainnya yang siap maju kemedan perang. Cara mereka membangkitkan semangat perang, antara lain melakukan variasi gerakan tubuh layaknya mirip gerak tari sembil menggoyang-goyangkan kedua kakinya yang ditekuk 30 derajat dibagian lutut. Tangan menggenggam parang, atau tombak atau anak panah yang siap diluncurkan dari busur mengarah kepihak lawan. Dari mulut mereka terdengar teriakan yel-yel histeris. Gerakan kepala, tubuh, tangan, dan kaki yang bergoyang mirip tarian yang diiringi tetabuhan genderang perang, seperti tambur, musik tiup dari bambu atau batangan kayu berlubang.

Terbagi duaSuku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal diantara sekian banyak suku di Papua Barat. Pertama ada Suku Asmat yang tinggal dipedalaman dan satunya lagi tinggal tak jauh dari pesisir pantai. Pada kondisi damai mereka bercocok tanam dan mencari makanan sehari-hari, sayuran yang bisa didapati dihutan, umbi-umbian. Juga hewan liar seperti babi hutan, ular, ikan sungai, dll.

Dikesibukan lain membuat peralatan rumah tangga, seperti kapak, parang, palu/martil dari bahan batu-batuan keras, Juga perangkat benda untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Seperti alat penangkap ikan berikut jukung/perahu yang diukir indah untuk alat transportasi lintas sungai, dll. Membuktikan suku Asmat dipedalaman maupun dipesisir mampu hidup mandiri. Mereka hidup tanpa ketergantungan orang lain walau banyak tantangan. Seperti suku Asmat yang berpijak diwilayah pesisir yang selalu mengirim ombak air laut kedaratan. Sehingga tanah coklat tempat mereka berpijak menjadi gembur dan berlumpur.

Untung ada Museum Asmat

Selama ini belum semua masyarakat Indonesia menyaksikan langsung karya seni budaya Asmat yang sungguh terkenal. Kecuali mereka yang pernah jalan-jalan wisata kesana. sambil bersenang-senang bersama sanak keluarga. Beruntung sejak beberapa tahun lalu, warga Jakarta dan dari daerah lainya di Indonesia sudah bisa menyaksikan sebagian besar benda seni budaya Asmat Papua Barat, di Jakarta. Tepatnya di Museum Asmat TMII, Pondok Gede, Jakarta Timur.

Keberadaan Museum Asmat di Jakarta merupakan prakarsa Ibu Negara Tien Soeharto. Museum dibangun untuk melestarikan dan mengkomunikasikan hasil karya anak bangsa yang berdiam dipedalaman Papua Barat. Bangunan museum Asmat berdiri diatas tanah seluas 6.500 meter persegi. Dirancang oleh Ir. Franky Devule. Terdiri dari 3 bangunan bangunan berderet dan saling berkait satu sama lain. Sehingga pengunjung dengan mudah dapat menyaksikan seluruh benda-benda yang dipajang di tiga bangunan yang saling tembus, dari bangunan pertama hingga bangunan ketiga.

Gedung bangunan yang mirip kukusan (mengerucut) bergaya rumah kariwari, yakni rumah pemujaan suku Tobati-Enggros, penduduk asli ditepi danau Sentani, Papua, namun dikembangkan menjadi bangunan berarsitektur modern.

Benda-benda pameran berupa benda budaya yang mengandung nilai dan mencerminkan pandangan hidup orang Asmat. Dimana keberadaan orang Asmat yang selalu berkait dengan nenek moyang yang diwujudkan dalam ukiran perlambang diberbagai benda keseharian.

Keberadaan museum Asmat TMII melengkapi 18 bangunan Museum lainnya yang ada dikawasan TMII. Sejak tahun 1985 sampai 1989 mengoleksi sejumlah besar benda seni budaya yang diperoleh dari hibah. Bahkan sejak berdirinya museum Asmat mencatat jumlah pengunjung yang melimpah. Tetapi akhir-akhir ini menurun drastis.

Menurut Ibu Intan, selaku jajaran manager Museum Asmat TMII, belakangan ini jumlah pengunjung perbulan sekitar 100 orang. Merosotnya jumlah tersebut mungkin saja karena berbagai hal, merupakan sikon yang kurang menguntungkan. Namun demikian kata Ibu Intan, jajaran pengurus mseum Asmat TMII terus berusaha mencari way outnya, meningkatkan mutu pelayanan dan kelak mendatangkan tamu yang signifikan. Bukan hanya museum Asmat TMII saja yang mengalami kesulitan menghadirkan pengunjung. Hal ini tidak jauh beda dengan sejumlah museum lainnya yang berada diluar areal TMII.

Ironisnya memang, tak hanya benda seni maupun benda yang terkait dengan sejarah lama yang menyimpan berbagai aspek sosiopsikologis dan kesejarahan itu sering dikatakan orang yang tidak mau tahu dan tidak tahu diri alias orang yang enggan mengapresiasi keadaan yang semestinya harus dicermati secara cerdas. Jenis orang macam ini hanya memandang benda kuno yang tersimpan di museum itu tergolek sepi dalam terkaman arus kemajuan zaman. Sungguh salah kaprah ucapan miring jenis orang yang tidak tahu menghargai kesejarahan anak bangsa.

Membangun mentalMembangun mental anak bangsa semenjak dini sangat diperlukan. Tujuannya mengurangi atau mengikis habis jenis orang yang terkena penyakit semau gue terhadap nilai sosial dan kesejarahan yang terus berkembang. Tentulah upaya mulia ini berada ditangan orang tua Lebih elok bila guru (SD s/d SLTA) gencar melaksanakan kewajibannya dengan tidak sekadar alih ilmu tetapi wajib membangun moral/mental siswa dengan cara mengajak ke Museum.

Dizaman global seperti sekarang, orang tua wajib/berhak mengajak anaknya ketempat hiburan, super market, pasar malam, atau wisata pegunungan, pantai dll. Tetapi betapa tak kalah pentingnya diimbangi dengan cara mengajak anaknya ke Museum, Galeri Seni Rupa, Pusat Kesenian. Semua guna mengimbangi latar hiburan demi kesenangan belaka. Sebaliknya mengunjungi Museum pun akan menyerap ilmu kepurbakalaan yang jarang ditemukan disembarang tempat. Karena benda-benda purbakala yang dipajang di Museum bukan sekedar barang tontonan tetapi juga tuntunan. Tugas orang tua, guru, dan masyarakat lainnya adalah menuntun anak menuju keseimbangan kecerdasan berpikir disemua lini kehidupan.

*** (Team Kreatif PKJ-TIM) ***