MUSEUM GAJAH-MUSEUM NASIONAL

MUSEUM GAJAH-MUSEUM NASIONAL

 Jangan lagi ada elegi * Museum kembar disela era peradaban anak bangsa * Indonesia berbudaya *

Bangsa yang berbudaya – semestinya berbangga hati memiliki ‘heritage’ yang dimaknai sebagai warisan/pusaka peninggalan leluhur lama Dinegeri ini sungguh berlimpah warisan/pusaka peninggalan leluhur kita. Tetapi banyak di antara kita kurang atau sama sekali tidak tahu apa itu ‘heritage’/warisan/pusaka peninggalan nenek moyang kita yang mahasakti. Agaknya patut disayangkan, ada sejumlah ahli waris yang sedarah-sedaging dengan nenek moyang mereka. Tetapi enggan atau tidak mampu merawat warisan/pusaka tersebut.

Mengapa? Kemungkinan para ahli waris yang secara sah sebagai pemilik warisan/pusaka itu kurang pemahaman akan benda-benda bersejarah itu. Sehingga lepas perhatiannya dan memungkinkan peninggalan warisan/pusaka itu lepas dari perhatian. Tetapi apapun kita bersyukur ada bangsa lain (pemerintah colonial Belanda dan Inggris) yang sejak berabad-abad silam nongkrong di bumi Nusantara. Melihat benda-benda pusaka peninggalan orang sakti Indonesia yang memang sangat diminati. ‘Heritage’ selain sebagai ciri peninggalan suatu bangsa selain sebagai alat pendidikan/pembelajaran, pengembangan keilmuan, kesusasteraan, arkeologi, kesejarahan makhluk manusia yang hidup masa silam itu terhindar dari keterlantaran.

Museum/Rumah Benda Kuno

Eksistensi Museum Nasional diawali dengan suatu himpunan bangsa kulit putih (Belanda) bernama “‘Bataviaassch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen’ (BG). Didirikan oleh pemerintah colonial Belanda pada 24 April 1778. Pada masa itu di Eropa tengah terjadi revolusi intelektual (the Ageof Enlightenment), yang mengembangkan pemikiran ilmiah dan ilmu pengeahuan. Pada tahun 1752 di Haarlem, Belanda, berdiri ‘The Holandsche Maatschappij der Wetenschappen (Perkumpulan Ilimiah Belanda) Hal ini mendorong orang-orang Belanda di Batavia (Jakarta Indonesia) untuk mendirikan organisasi sejenis ‘BG'”.

Perhimpunan ‘BG’ di Indonesia merupakan lembaga independent yang didirikan untuk tujuan mengembangkan penelitian dibidang seni dan ilmu pengetahuan khususnya dibidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusasteraan, etnologi dan sejarah, serta menerbitkan hasil penelitian lembaga ini mempunyai semboyan ‘Ten Nutte van het Algemeen’ (Untuk kepentingan masyarakat umum).

Salah seorang pendiri lembaga ini, yaitu JCM Radermacher, menyumbangkan rumah pribadinya jalan Kalibesar Jakarta Kota, juga menyumbangkan sejumlah koleksi benda budaya dan buku yang berguna. Sumbangan Radermacher inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Museum dan Perpustakaan.

Bahkan semasa pemerintahan colonial Inggris di pulau Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles, yang duduk sebagai Direktur ‘BG’, memerintahkan pembangunan gedung baru sebagai Museum dan Ruang pertemuan. Mengingat ruang perpustakaan dan benda-benda kuno yang ada di jalan Kalibesar sudah penuh. Didirikanya bangunnya baru yang terletak di jalan Majapahit itu disebut gedung ‘Societeit de Harmonie’. Gedung tersebut kini berada dikawasan Sekretariat Negara, dekat Istana Kepresidenan.

Rumah benda kuno/Museum‘Rumah benda kuno’. Atau pas disebut ‘Museum’. Berlanjut dalam ‘blow-up’ berkat didorong semangat ‘Abad Penecerahan’, yang muncul sekitar abad 18. Gedung yang dibangun tahun 1862 oleh pemerintah colonial Belanda dibawah Gubernur Jenderal JCM Radermacher sebagai respon adanya perhimpunan ‘Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen’ yang bertujuan menelaah riset-riset di Hindia Belanda. Museum ini diresmikan tahun 1868, tetapi secara institusi cikal bakal Museum ini lahir tahun 1778, tepatnya tanggal 24 April, pada saat pembentukan ‘Bataviaasch Genootshap van Kunsten en Wetenschaappen’ oleh pemerintah Radermacher menyumbang sebuah gedung yang bertempat di jalan Kalibesar berserta dengan koleksi buku dan benda-benda budaya lainnya sehingga menjadi dasar untuk pendirian Museum.

Bahkan semasa pemerintahan Inggris, dibawah komando Sir Thomas Stamvord Raffkes (1811-1816) yang juga sebagai Direktur Bataviaash Genootschap van Kunsten en Wetenshaappen memerintahkan pembangunan gedung baru yang terletak dijalan Majapahitt no. 3. Gedung ini dijadikan sebagai Museum dan ruang petemuan untuk Literary Society (dahulu bernama ‘Sopcieteit de Harmonie’). Gedung ini sekarang berada dikomplek Sekretariat Negara.

Kini Museum tak hanya sebagai tempat menyimpan benda kuno semata. Atau sebagai tempat pajangan. Melainkan sebagai pendidikan dan pembelajaran. Menyimak atau memahami apa itu heritage/warisan leluhur lama yang banyak ditinggalkan atau dititipkan kepada leluhur baru.

Benda-benda warisan/pusaka tak bisa dinilai dengan dollar, yen, won atau rupiah, Oleh karenanya menjadi ‘PR’ kita sebagai pewaris untuk merawat jejak peradaban. Dari situ kita akan memahami apa sesungguhnya warisan/pusaka yang ditinggalkan kepada pewaris yang semestinya berbuat banyak dan bertindak. Merawat, menyelamatkan, memperkenalkan kepada generasi masa kini atau leluhur baru.

Jumlah koleksi milik BG terus meningkat hingga Museum di jalan Majapahit (Harmoni) tidak lagi dapat menampung koleksinya. Maka pada tahun 1862, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengembangkan sebuah Museum baru di jalan Merdeka Barat no. 12, Jakarta. Gedung ini dibuka pada tahun 1868.

Museum ini dikenal masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta. Mereka menyebutnyua ‘Gedung Gajah’ atau Museum Gajah karena dihalaman depan Museum terdapat sebuah patung gajah perunggu hadiah dari Raja negeri Thailand.

Mengingat pentingnya Museum ini bagi bangsa Indonesia maka pada tanggal 17 September 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan Museum kepada pemerintah, yang kemudian menjadi ‘Museum Pusat’. Akhirnya Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional, Sejak 28 Mei 1979, Museum Nasional berada dibawah pengelolaan Kemendiknas.

Tahun 1996, saat Mendiknas Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro didampingi Dirjen Kebudayaan Kemendiknas, Prof. Dr. Edi Sedyawati, menduduki kursi nomor satu di altar Kemendiknas, mengembangkan Museum Nasional menjadi lebih gebyar. Tempo dulu sebelum Pak Wardiman dan Ibu Edi turun tangan, suasana ruang pamer koleksi kurang nyaman. Remang-remang menakutkan. Selain penataan ruang koleksi yang berdesakan, juga pencahayaan memunculkan kesuraman, bikin bulu kuduk merinding.

Baru ketika dua pejabat tinggi Kemendiknas ini turun tangan, semua menjadi berubah. Selain penataan ruang pamer menjadi makin kinclong, juga mengembangkan sayap Museum Nasional (gedung I) menjadi gedung kembar dengan dibangunnya gedung baru (gedung 2). Didalamnya tersaji koleksi yang mencapai jumlah ratusan ribu.

Tahun 2001 jumlah koleksi mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi tersebut menjadikan Museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia. Tahun 2006 jumlah koleksi meningkat menjadi 140.000 koleksi. Bahkan hingga sekarang bertambah terus entah sampai berapa ribu buah. Selain jumlah pengunjung kian meningkat. Mungkin disebabkan tarif masuk pengunjung tidak harus merobek kocek. Tiket untuk dewasa Rp. 5.000,- Anak-anak Rp. 2.000,- Orang asing Rp 10.000,-

ELEGI

Jangan lagi ada ‘elegi’ (nyanyian pedih) yang menciderai kehormatan, dan kemuliaan Museum Nasional yang selama ini menjaga peradaban anak bangsa. Kehilangan beberapa ‘heritage’ yang dicuri penjahat tak bermoral itu sungguh menyakitkan. Tak hanya mahluk manusia yang mengelus dada atas lenyapnya benda-benda yang menyimpan kesejarahan anak bangsa. Bahkan ‘nyanyian pedih’ juga menyayat sejumlah ‘heritage’. Benda-benda kuno yang mengandung ilmu kesejarahan itu ikutan menyanyi dalam puisi :

‘jangan salahkan aku tinggal diruang bisu
jangan benci aku bila kau tak tahu siapa diriku
jangan boyong aku dari ruang bisu
kau kira aku tak tahu : kau pencuri tak tahu malu!’

ELEGI atau Nyanyian duka itu terdengar merdu. Ketika ditembangkan oleh keluarga ‘Artefak’ yang ditempatkan disalah satu ruang khusus. Jelasnya famili ‘Artefak’ yang indah bersejarah dengan balutan warna emas murni membuat kita penyayang ‘Artefak’ menjadi geram terhadap penjahat yang tak tahu malu.

Namun ‘kehilangan’, kecelakaan atau kematian itu takdir. Takdir tidak bisa ditolak. Adalah ‘Takdir’ itu milikNYA. Jadi selama ini orang boleh main tebak atau saling menyalahkan. Terbukti ketika Kusni Kasdut bersama ‘Geng-nya’, berhasil menggondol tiga butir berlian sebesar bijih kemiri. tahun 1970-an, tidak ada pengaman yang tahu. Padahal tempo dulu diseberang Museum Nasional terdapat Hopbiro (kantor polisi). Dan Kadut mengelabui pengaman dengan cara memakai seragam gaya seragam pak polisi, bikin orang lain tertipu bahwa Kusni Kasdut itu adalah penjahat. (TH) ***