MUSEUM PUSAKA TAMAN

MUSEUM PUSAKA TAMAN MINI INDONESIA INDAHMenyimpan Misteri Peradaban Anak Bangsa* Lebih dari 5611 koleksi berupa keris pusaka menjadi bukti bahwa sejak berabad abad silam anak bangsa menunjukan kehebatanya membuat senjata perang, berupa keris, tombak dan sejenisnya yang bermutu artistic tinggi * Tak pelak UNESCO mengakui karya besar tersebut pada tahun 2005. *

Keris, merupakan benda seni budaya Indonesia bermutu artistik tinggi. Bentuknya khas dan unik. Berlekuk atau lurus berujung tajam dan runcing. Dulu digunakan sebagai senjata perang. Bahkan Keris menjadi semacam penyokong kekuatan batin/kesaktian pemiliknya. Tetapi sekarang keris boleh disebut benda seni budaya anak bangsa atau lebih gres sebagai benda pusaka warisan nenek moyang. Keris pusaka bertuah disimpan rapi oleh pemiliknya dan tiap tahun pada bulan Syuro, dijamasi atau dibersihkan.

Benda pusaka ini sangat dikagumi karena wujudnya lengkap dengan telisik ornament nan indah. Memunculkan pamor beraneka ragam.nama antara lain pamor Wos Wutah, Udan Gerimis, Ron Genduru, Bendo Segodo, dll.

Memang, Keris diyakini menjadi semacam penyokong kekuatan batin pemiliknya atau pembuatnya yang disebut Empu. Tentulah kekuatan batin atau katakanlah kesaktian yang dimiliki Empu pembuat kerisitu adalah anugerah Tuhan. Karena itu ilmu kebatinan yang tinggi tidak bisa diperoleh dengan mudah. Atau tidak gampang didapat secara instant melainkan melalui proses panjang tapa brata (berdoa, puasa dll) selama bertahun-tahun. Ilmu kesaktian itupun bukan datang dari langit, tetapi atas nama Tuhan Yang Maha Esa.

Seperti halnya Keris yang dibuat oleh Empu Gandring yang melegenda dan diyakini sebagai pembawa riwayat yang memilukan dan kemisteriusan pada zamannya. Keris Empu Gandring sempat menghabisi sejumlah nyawa secara berurutan hingga terbunuhnya Tunggul Ametung dan Ken Arok. Tetapi sangat disayangkan sejak terbunuhnya sejumlah nama pembesar kerajaan, Keris Empu Gandring yang begitu dahsyat itu mukswo atau (menghilang entah kemana). Padahal riwayat Keris Empu Gandring, yang memunculkan tragika panjang di tanah Jawa ditandai urutan huraf Jawa atau Aksara Jawa : Ho – No Co – Ro – Ko Do – To So Wo – Lo Po – Do – Djo – Yo – Nyo Mo – Go – Bo – To Ngo. Hingga sekarang Aksara Jawa masih sebagai bahan pengajaran dan pendidikan dalam rangkaian bahan ajar kearifan tradisi disekolah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kemana Keris Empu Gandring menghilang, hingga kini tak seorangpun belum menemukan. Tetapi sejumlah ahli ilmu kebatinan, masih terus mencoba mencari pusaka misterius itu. Mereka berdiskusi, berdebat dan membicarakan berbagai kemungkinan untuk menemukan kembali pusaka tersebut. Bila ditemukan pasti disimpan disini. ungkap Drs. Sumarto, bidang koleksi dan pemandu Museum Pusaka Taman Mini Indoneia Indah, kepada ‘team kreatif teknologi informasi Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki’.

Museum sebagai sarana penting yang menyimpan, memelihara dan memamerkan benda-benda pusaka warisan nenek moyang yang mengandung nilai keindahan dan bobot manfaat bagi generasi penerus dalam memperluas cakrawala budaya serta memahami latar belakang sejarah anak bangsa, Indonesia. Dan ribuan benda pusaka tersebut kini berada di Museum Pusaka TMII, Jakarta.

Benda-benda yang mengandung nilai sejarah itu didapat dari hibah berbagai penyumbang. Salah satunya penyumbang terbanyak dari keluarga Masagung, pemilik Museum Tosan Aji, jalan Kwitang No. 13 Jakarta Pusat. Museum Pusaka TMII diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 April 1993. Bangunan Museum terdiri dari dua lantai Dilantai dasar terapat ruang informasi, dan Ruang Pusaka Nusantara, menyajikan berbagai benda pusaka dari berbagai penjuru tanah air.

Lantai atas merupakan ruang introduksi yang menyajikan pengenalan dan bagian-bagian dari pusaka. Ruang Dhapur Pusaka sebagai tempat penyajian berbagai macam Dhapur yang mewakili berbagai macam Daphur yang ratusan jumlahnya,

Ruang Tangguh Pusaka menyajikan pusaka dari bermacam-macam tangguh atau jaman serta penjelasannya. Ruang Pamor Pusaka menyajikan bermacam keindahan Pamor atau penjelasan dan arti dari pamor. Sejumlah ruang lainnya adalah ruang Pusaka Terpilih, Ruang Budaya Pusaka dari Jaman kejamanm Ruang Bentuk Bilah Pusaka dll.

Nagasasra Sabuk Inten

Keris Nagasasra Sabuk Inten zaman Mataram, yang dipajang diruang Tangguh Pusaka, banyak mendapat perhatian pengunjung karena keindahan pamornya yang unik dan menarik juga banyak mendapat pujian dari berbagai media cetak. Keris Nagasasta berada dalam barisan ruang yang sebaris dengan Kujang Pajajaran yang juga banyak mendapat perhatian pengunjung. Disamping itu masih ada ruang lainnya yang juga tidak luput dari perhatian pengunjung, antara lain Keris Singo Barong tinatah atau berlapis logam mulia emas yang gemerlapan. Juga Karih (Keris) dari Sumatera, disamping pisau Belati dari zaman Mataram yang bentuknya unik menarik, Ada pula Kudi dari zaman Kerajaan Tuban, dan Pedang zaman Hamangku Buwono IX yang sungguh popular. Menyusul Keris Naga Tapa dari Yogyakarta dipajang sebagai benda-benda pusaka unggulan karena langka dan melegenda.

Boleh dikatakan semua jenis benda pusaka yang dipamerkan cukup menarik dan banyak menyita waktu para pengunjung karena keingintahuanya tentang ragam keris pusaka dari berbagai zaman dan daerah.

Lebih baik dihibahkan

Hingga saat ini sejumlah pemilik keris pusaka yang menghibahkan ke Museum Pusaka TMII masih terus mengalir. Hal itu menambah jumlah koleksi Museum makin meningkat. Alasan menghibahkan benda pusaka itu ujar Drs Sumarto, banyak diantara pemilik benda pusaka yang merasa tidak mampu merawat atau sering muncul perasaan takut dan gelisah. Menimnbulkan sesuatu yang tidak diinginkan. Menurut keyakinan pewaris keris pusaka peninggalan kakek moyangnya itu dipandang kurang cocok dan sangat menggelisahkan. Dan banyak lagi kisah para pewaris keris pusaka yang tidak tenteram dan kadangkala menimbulkan perasaan takut, dsb-nya. Sebab itu lebih baik dihibahkan.

Keris memiliki nilai filosofi yang diwakili oleh bentuk dan pamor. Di dalam sebilah keris banyak kisah yang terwariskan secara turun temurun. Umumnya kisah itu memuat sejarah yang nilainya mulia yang dijaga dari generasi ke generasi.

Keris juga merupakan penanda zaman, menjadi perangkat penguasa dan kekuasaan selama berabad-abad. Banyak tokoh pejuang, ulama dan politisi mempunyai keris. Raja-raja Jawa, Madura, Suamtera, Sulawesi, Bali dan Lombok tak hanya mempunyai keris. Tetapi menciptakan keris yang kini kita kenal melalui tangguhnya. Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara juga memiliki keris.

Keris selalu hadir di hampir setiap peristiwa perjuangan. Dalam lukisan Basuki Abdullah Pangeran Diponegoro digambarkan sedang berkuda dengan keris terselip dipinggang. Tangan kanannya seperti menyerukan semangat tinggi melawan penjajah Belanda. Keris hadir juga dijaman perang kemerdekaan. Jenderal Sudirman memimpin gerilya selalu ditemani keris. Tuanku Imam Bonjol membawa kerisnya dalam Perang Paderi. Bung Karno juga punya keris, selain itu Bung Tomo, saat perang melawan penjajah di Surabaya juga mengcung-acungkan keris ditangan kanannya.

Keris juga bisa mewakili pejabat kerajaan di Jawa ketika Sang pejabat tidak sempat menghadiri undangan acara pesta pernikahan atau acara lainnya. Keris pusaka sebagai wakil pribadi, cukup diletakan di kursi. Dan tuan rumah bisa memahami. Boleh juga ya ?
ungkap Drs. Sumarto.***