Museum Wayang

Museum Wayang

Tidak semua orang tahu bahwa jenis wayang di Indonesia mencapai belasan bahkan puluhan jenis. Selama ini orang hanya tahu sebatas wayang kulit (Jawa Tengah) atau wayang golek (Jawa Barat). Karena kedua jenis wayang tersebut sering ditampilkan di layar televisi atau dipentaskan di lapangan terbuka.

Bila mau tahu lebih banyak, cobalah berkunjung ke gedung kuno bergaya arsitek Eropa Barat. Itulah gedung Museum Wayang, terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Kota. Gedung kuno tersebut diresmikan sebagai Museum Wayang oleh gubernur Ali Sadikin, tahun 1975. Puluhan bahkan belasan jenis wayang dari berbagai daerah di Indonesia, maupun mancanegara terkoleksi di Museum tersebut. Menunjukan kekayaan khasanah budaya nusantara ini. Tak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia tetapi juga dikagumi oleh berbagai bangsa lain dibelahan dunia. Mengapa ? Hampir sejumlah besar wisatawanasing selalu menyempatkan diri berkunjung di Museum Wayang untuk mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk seni budaya wayang.

Museum Wayang memiliki berbagai koleksi seperti wayang kulit, wayang golek, wayang klitik, wayang beber, wayang kardus, wayang rumput (suket), wayang janur, wayang Sasak, wayang Bali. Di samping wayang golek yang terbuat dari kayu dan kain antara lain wayang catur dan wayang cepak, wayang golek Cirebon, Kebumen, Pekalongan, Pakuan, Bogor, Bandung, Dan beberapa lagi seperti wayang golek Gundala-Gundali, Wayang Si Gale-Gale dari Sumatera Utara, dll. Hingga kini Museum Wayang mengoleksi lebih dari 5.400 buah dan diperkirakan jumlahnya akan terus bertambah. Jenis wayang golek ‘Rai Wong’ ciptaan dalang Ki Entus Susmono dari Tegal, belum sempat terkoleksi. Tetapi beberapa wayang internasional seperti Wayang Potehi dari China, Vietnam, Thailand, Kamboja, India, dan Wayang boneka dari Inggris, Perancis, Polandia, dan boneka Stockholm, turut mewarnai jumlah koleksi museum ini.

Gedung Museum Wayang telah beberapa kali mengalami perubahan. Dibangun pertama kali tahun 1640 bernama ”De Oude Hollandse Kerk” (Gereja lama Belanda) Tahun 1732 diperbaiki dan ganti nama menjadi ”De Nieuwe Hollandse Kerk”(Gereja Baru Belanda). Gedung ini pernah hancur akibat gempa bumi pada tahun 1808 kemudian dirobohkan oleh Deandels. Bangunan yang ada sekarang dibangun tahun 1912, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda. Setelah beberapa kali pindah tangan menjadi Museum “De Oude Bataviaasche Museum” atau Museum Batavia Lama yang pembukaannya dilakukan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda terakhir, Jenkheer Meester Aldius Warmoldu Lambertus Tjarda Van Starkenborg Stachouwer. Terakhir gedung tersebut berpindah tangan ke Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Indonesia.

Pada 17 September 1962, Lembaga tersebut menyerahkan gedung ini kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan ditetapkan sebagai Museum Jakarta sebelum diserahkan kepada Pemda DKI. Pada 23 Juni 1968, Pemda DKI kemudian menyerahkan pengelolaan gedung ini kepada Dinas Museum dan Sejarah. Dalam kondisi kosong, gedung dipugar dan diresmikan sebagai Museum Wayang oleh Gubernur DKI Ali Sadikin, 13 Agustus 1975.

Museum Wayang memamerkan dan memiliki berbagai koleksi dan boneka seluruh Indonesia. Seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber, wayang kardus, wayang rumput (suket), wayang janur, dan lain-lain. Wayang-wayang dan boneka tersebut ada yang terbuat dari kayu, kulit dan sebagainya. Hingga kini Museum Wayang mengoleksi lebih dari 5.400 buah. Ada juga wayang dan boneka dari luar negeri misalnya dari Tiongkok, Vietnam, Kamboja, Thailand, Suriname, India, Cina, Perancis, Inggris, Polandia, Kolombia, dll.

Di tengah gedung di lantai dasar terdapat Taman Museum Wayang. Disana terlihat beberapa prasasti peninggalan Belanda. Prasasti ini cukup menarik karena memiliki aneka model, gaya dan ukuran serta ditata rapi pada dinding tembok di taman bagian tengah bangunan. Antara lain, nama Guberner Jenderal VOC, pendiri kota Batavia, Jan Pieter zoon Coen yang meninggal 1692. Juga terdapat prasasti Gubernur Jenderal VOC Gustaaff Willem Baron van Imhoff, pendiri Toko Merah dan Gubernur Jenderal Adriaan Valckkenier (1751), pada masa pemerintahan Valckkenier terjadi peristiwa pembantaian ribuan warga Tionghoa di Batavia (1740).***

(dari beberapa sumber)