Seniman Tari

Seniman Tari

Suprapto Suryodharmo

Di kalangan koreografer, Mbah Prapto, begitu ia biasa disapa dikenal sebagai penganut ‘gerak bebas’. Banyak penari datang kepadanya untuk mendapatkan inspirasi, untuk merasakan ‘pencerahan’ dari gerak bebas-nya. Ia sendiri lebih senang menggunakan istilah joget dibanding tari untuk gerakannya, yang kemudian ia namakan ‘Joget Amerta’. Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, tahun 1945, telah mengenal gerak sejak masih kanak-kanak, mulai tari klasik Jawa, silat hingga kungfu. Ia juga belajar meditasi Buddhis (vipassana) serta relaksasi Jawa (sumarah) yang katanya berguna untuk mengeksplorasi alam dan kesadaran.

Saat remaja, ayahnya yang penganut aliran kepercayaan kejawen sering mengajaknya ke tempat-tempat keramat, seperti gunung, pepunden, sendang dan kuburan. Selama menemani sang ayah ‘berpetualang’, tak jarang ia pun terpaksa ikut nglakoni, seperti puasa, tidur di sendang atau pun kuburan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bakat seninya juga terbentuk oleh lingkungan. Semasa ia kecil, dari rumah-rumah di Kemlayan, tempatnya tinggal, selalu terdengar lantunan gending atau langgam. Kemlayan sendiri dulunya merupakan perkampungan tempat tinggal para pengrawit (musisi gamelan) keraton.

Pada 1966, ayah tiga anak ini mendirikan sebuah kelompok kebudayaan kecil bernama Bharada (singkatan dari bhinneka raga budaya) yang berkumpul secara rutin di rumahnya untuk belajar dan melakukan geladi. Pelatih-pelatih Bharada diantaranya adalah S. Ngaliman dan Mloyo Widodo, tokoh-tokoh terkenal didunia tari dan gamelan yang merupakan penjelmaan nilai-nilai spiritual dan artistik Jawa tradisional.

Tahun 1967, ia diterima di Jurusan Karawitan ASKI Surakarta (sekarang ISI Surakarta), tak lama kemudian, ia terpilih sebagai ketua senat mahasiswa. Dengan posisinya tersebut, ia beberapa kali mengadakan lokakarya, pertunjukan, dan festival baik dengan para seniman tradisional maupun inovatif, diantaranya mengundang penyair dan sutradara W.S. Rendra ke ASKI Surakarta.

Saat kuliah di ASKI, ia sangat dekat dengan Gendhon Humardhani, yang ditunjuk sebagai kepala ASKI Surakarta pada 1975. Ia tertarik dengan perspektif Gendhon Humardhani yang sangat jernih terhadap tradisi, yang didasarkan atas estetika universal. Gendhon Humardhani sendiri adalah seorang visoner artistik yang meramalkan adanya kebutuhan untuk menyelaraskan ulang seni Jawa dengan era kontemporer, serta menghidupkan kembali pertunjukan Jawa yang di modernisasi dan di nasionalisasikan untuk memikat penonton nontradisional.

Pernah bekerja di ASKI dan di Organisasi ASKI untuk masyarakat umum, Pusat Kebudayaan Jawa Tengah, secara langsung dibawah Gendhon Humardhani antara 1972 hingga 1983 walaupun tidak terus-menerus. Gendhon Humardhani pulalah yang mendorongnya untuk menuntaskan pendidikan sarjana mudanya di Jurusan Filsafat Universitas Gajah Mada. Ketika itu ia menulis skripsi ‘Filsafat Dewa Ruci, Sebuah Kisah Kunci Dalam Wayang dan Teks Utama Mistisisme Jawa’. Pada saat yang bersamaan, ia mulai mempelajari Buddhisme dan Sumarah (penyerahan mutlak), sebentuk mistisisme Jawa yang melibatkan praktik meditatif melalui gerakan otomatis, selain Taichi, Kung Fu, dan Tarian Jawa Tradisional. Dengan Sudarno Ong, sebagai Pamong Sumarahnya yang utama. Tahun 1974, ia  resmi memeluk Buddhisme.

Tahun 1974, dengan dukungan Gendhon Humardhani, ia memimpin sebuah tim yang terdiri atas penari, dalang, musikus, dan seniman visual dari ASKI dan Akademi Seni Murni Yogyakarta, ASRI, untuk menciptakan Wayang Buddha. Wayang Buddha adalah pementasan wayang gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dan dunia pewayangan. Pertunjukan Wayang Buddha menceritakan kisah-kisah Buddhis seperti riwayat Buddha, Sutasoma, dan Kunjarakarna Dhramkathana. Wayang Buddha dipertunjukan baik di festival-festival seni maupun dalam acara-acara keagamaan dan hari raya Buddha. Ia meninggalkan ASKI pada tahun 1983, setelah wafatnya Gendhon Humardhani.

Pentasnya ke Jerman (bersama koreografer Sardono W. Kusumo) dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982 mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki pendekatan gerak bebas, sama dengan dirinya. Setiap tahun sejak lawatannya yang pertama itu, ia terus-menerus diundang untuk memberikan workshop dan mementaskan jogetnya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang dan Amerika Serikat. Ketika jaringannya mulai tersebar di banyak negara, tahun 1986, ia mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah wadah untuk menampung murid-muridnya. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movement. Istilah ini untuk menyebut teknik mengajarnya yang lebih banyak berbagi.

Sebuah metode belajar yang selalu ia terapkan untuk murid-muridnya adalah srawung candi (mengunjungi candi). Setiap 1 Januari, ia selalu mengajak murid-muridnya keliling Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah, mengamati dan menghayati kekosongan relief dan batu-batu untuk mendapatkan energinya. Tidak hanya candi Sukuh, tapi juga candi Borobudur, candi Sewu, Candi Prambanan, candi Gedong Sanga, hingga candi-candi di Bali dan Toraja. Menurut ayah dari koreografer tari Melati Suryodharmo ini, candi-candi memiliki hubungan dengan waktu. Dalam ruang candi masih mengalir atmosfer waktu alam, waktu kepurbaan alam raya, yang sedemikian dekatnya alam dengan Tuhan dan manusia.

Seniman yang pernah latihan di depan Piramid, Mesir dan masih terlihat energik di usia senja ini akan terus tetap menari meski tidak ada orang yang menonton dan memperhatikan. Selain itu, ia pernah menjadi salah seorang inisiator perhelatan seni ritual di Ground Zero, New York, Amerika Serikat, pada 2001 ini juga tak pernah bersepatu.

(Dari Berbagai Sumber)

Nama :

Suprapto Suryodarmo

 

Lahir :

Surakarta, Jawa Tengah, 1945

 

Pendidikan :

Jurusan Karawitan ASKI Surakarta (ISI Surakarta),

Jurusan Filsafat Universitas Gajah Mada

 

Karier :

Pengajar di ASKI/ISI Surakarta,

Bekerja di organisasi ASKI untuk masyarakat umum,

Bekerja di Pusat Kebudayaan Jawa Tengah

 (Taman Budaya Surakarta)

Pendiri Padepokan Lemah Putih

 

Aktifitas Lain :

Mendirikan Kelompok Bharada

 

Karya Tulis :

Filsafat Dewa Ruci, Sebuah Kisah Kunci Dalam Wayang dan teks Utama Mistisme Jawa (skripsi)