Yang Unik & Artistik

Yang Unik & Artistik

DARI KATEDRAL JAKARTA

* Ternyata ada ‘Museum’ dilantai 3 (tiga) Gereja Katedral Jakarta * Benda-benda kuno pun masih bisa berkisah * Satu diantaranya lukisan karya Kusni Kasdut * Siapa sangka Katedral Jakarta pernah ambruk * Bahkan tersenggol ‘bom’ dizaman tentara Jepang mendarat di Indonsia * Kini malah bercahaya menjelang Natal tiba 25 Desember 2013 *

Tempo dulu ketika Buffelsveld atau Lapangan Banteng di Weltevreden – Batavia (Jakarta Pusat) belum terjamah bangunan, seperti Tugu Pembebasan Irian Barat, Tempat Pameran Tanaman Hias, Lapangan sepak bola, dll. Suasananya asri banget dan enak dipandang mata. Lapangan Banteng tempo dulu terasa lega tidak sesumpek sekarang. Dulu ketika masih asri menjadi andalan warga Jakarta menikmati suasana sore menjelang senja. Menghirup udara sore dan asyiknya bersantai ria. Duduk-duduk santai bersama keluarga dihamparan rerumputan hijau membawa suasana hati dan pikiran menjadi tenang.

Ketika pandangan kita mengarah ke utara, tertumbuk pada sosok bangunan kuno yang kokoh tetapi indah berwibawa. Bangunan kuno itu mencuatkan tiga menara yang menohok langit. Itulah Gereja Katedral Jakarta yang terletak disebelah utara lapangan Banteng Jakarta. Sejak tahun 60-an saat Masjid Istiqlal dibangun, keberadaan Katedral menjadi bersebelahan dengan Masjid Istiqlal.

Pada mulanya nama resmi Gereja Katedral ‘Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga’, (De Kerk van Onze Lieve ten Hemelopeming) adalah sebuah Gereja di Jakarta. Gedung Gereja tersebut diresmikan pada 1901 dengan gaya arsitektur ‘Neo-Gotik’ Eropa.

Tiga Menara GerejaAda tiga ciri khas yang menandai gedung kuno ‘Gereja Katedral Jakarta’. Yaitu tiga buah menara yang menjulang tinggi, Pertama adalah : ‘Menara Angelus Dei’ terletak dibagian tengah, agak kebelakang setinggi 45 m, kedua ‘Menara Benteng Daud’, terletak disisi kanan pintu masuk utama setinggi 60 m, ketiga ‘Menara Gading’ berada dipintu masuk utama, setinggi 60 m.

Katedral yang kita kenal sekarang sesungguhnya bukan gedung Gereja yang asli ditempat itu, karena Katedral yang asli diresmikan pada Februari 1810. Namun tidak disangka pada 27 Juli 1826 gedung Gereja itu terbakar bersama 180 rumah penduduk disekitarnya, di wilayah Senen yang padat penduduk, tak jauh dari jalan Kenanga. Bahkan pada 31 Mei 1890 bangunan Gereja itu makin rusak dan ambruk karena terbuat dari bahan bangunan sederhana, berupa bambu. Naas berlanjut pada malam Natal, terkena serangan ledakan bom saat tentara Jepang mendarat di Indonesia.

Sejarah Awal Gereja Katedral

Sejarah awal keberadaan Gereja Katolik muncul dengan adanya perubahan politik dinegeri Belanda khususnya kenaikan tahta Raja Louis Napoleon, seorang Katolik, membawa pengaruh positif. Kebebasan beragama mulai diakui oleh pemerintah. Baru pada 8 Mei 1807 pimpinan Gereja Katolik Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda. Merupakan wilayah Gereja Katolik yang bernaung langsung dibawah pimpinan Gereja Katolik di Roma, yang bukan dipimpin oleh seorang Uskup, melainkan seorang Imam biasa yang ditunjuk oleh Paus, disebut Prefek Apostolik.

Pada 1808 Misionaris Katolik, Pastor Jacobus Nelissen dan Pastor Lambertus Prinsen tiba di Batavia (Jakarta). Tahun 1810 gereja Katolik pertama dibangun di Batavia merupakan sumbangan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, yang terletak di wilayah Senen dan diberkati oleh Pastor Jacobus Nelissen dengan nama St Ludovikus.

– Komisaris Jenderal Leonardus Petrus Josephus Burrggaraf Du Bus de Gisignies pada 1828 berjasa dalam mengusahakan tempat yang baru untuk mendirikan Gereja yang berlokasi disudut Waterlooplein (Lapangan Banteng).

– Pada 1829 Pastor Lambertus Prinsen memberkati Gereja 6 Nopember 1829 dan diberi nama ‘Santa Maria Diangkat ke Sorga’. Kemudian pada 1842 Mgr Jacobus Groof diangkat sebagai Viscaris Apostolik di Batavia yang pertama kali sejak saat itu Gereja Santa Maria Diangkat ke Sorga disebut sebagai ‘Gereja Katedral’.

– Tahun 1860 – Gereja Katedral mulai menunjukan kerusakan dan kebocoran. Menyusul tahun 1880, Gereja Katedral selesai direnovasi. Tahun 1890 Bangunan Gereja Katedral ambruk. Selanjutnya pada 1891 perencanaan pembangunan Gereja Katedral yang baru. Pastor Antonius Dijkman SJ, adalah arsitek yang mendesain Gereja Katedral.

– Pada 1894 Pastor Antonius Dijkman pulang ke Belanda. Berlanjut pada 1899 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Provikaris Carolus Wenneker SJ pada tanggal 16 Januari 1899. Pembangunan Gereja Katedral dilanjutkan hingga selesai oleh arsitek Marius Hulswit.

– Pada 1894 Pastor Antonius Dijkman pulang ke Belanda. Berlanjut pada 1899 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Provikaris Carolus Wenneker SJ pada tanggal 16 Januari 1899. Pembangunan Gereja Katedral dilanjutkan hingga selesai oleh arsitek Marius Hulswit.

Ambruknya Katedral yang pertama dibangun di wilayah Senen, karena menggunakan bahan bangunan seperti bambu dan bilik yang cepat keropos. Lantas dipindahkan ke jalan Perwira dekat lapangan Banteng (Lapangan Banteng Barat), yang kemudian dijadikan markas militer. Seusai Indonesia Merdeka, menjadi Markas Pangdam 5 Jaya tak jauh dari lapangan Banteng. Sekarang dibekas bangunan Gereja yang runtuh berdiri megah Departemen Agama RI. Sedangkan Katedral yang hingga sekarang berdiri megah dipojok lapangan Banteng yang letaknya berseberangan dengan Masjid Istiqlal, selain kokoh, indah dan punya daya tahan karena kualitas bahan bangunannya cukup berkualitas.

Tiga menara yang menjulang tinggi terbuat dari bahan baja tahan karat. Bahkan salah satu menara yang terletak dibagian depan mampu menahan lonceng raksasa yang digantung diujung menara. Lonceng raksasa itu dengan tambang yang meluncur kebawah. Mirip dengan bentuk lonceng yang terdapat di Gereja Roterdam Belanda. Bunyi Lonceng itu bukan main keras dan menggema terbawa arus udara buatan yang letaknya dilantai bawah. Arus udara buatan yang tersimpan didalam peti raksasa itu membuat suara lonceng bergema keras. Lonceng ini hingga sekarang masih dibunyikan di Katedral Jakarta.

Selain itu beberapa pilar penyangga yang terbuat dari besi baja juga lapisan dinding dengan bestek semen pasir yang kokoh mendukung kekuatan selama bertahun-tahun. Tetapi yang patut diacungi jempol adalah sistem atap lengkung yang mirip kubah dibuat dari kayu jati kualitas tinggi. Lengkungan-lengkungan kayu jati tanpa paku itu memancarkan keindahan tersendiri khususnya dibagian ruangan dalam Katedral. Bangunan kuno dengan kearsitekturan yang tak ada duanya di Indonesia ini menjadikan Katedral Jakarta diakui Pemda DKI Jakarta sebagai ‘bangunan cagar budaya’ yang harus dilestarikan.

Museum di Katedral


Suasana museum katedral di balkon tingkat 3 (tiga)

Demi merawat nilai kesejarahan sesama umat manusia, sekaligus merawat nilai persaudaraan umat manusia didunia, kami berkewajiban menghormati dan menunjung tinggi para tetangga sebelah kami. Dalam hal ini adalah umat Islam dimanapun berada terlebih lagi umat Islam beserta pengurus Masjid Istiqlal yang selama ini selalu bekerjasama dengan baik-baik saja. ‘Meskipun kita beda keyakinan namun bukan berarti antara kita saling berjauhan’, Selama ini kami membina kerukunan ungkap Gregorius Indra Sahadi, Wakil Kepala Museum Katedral Jakarta.

‘Saya merasa bahagia karena selama ini antara umat Katedral dengan umat Masjid Istiqlal saling bekerjasama. Saling bahu-membahu, tolong-menolong salah satunya ialah saat Umat Islam melaksanakan Ibadah Sholat Iedul Fitri di Masjid Istiqlal, kami turun kelapangan membantu menata perparkiran sekaligus menjaga keamanan bersama. Orang Jawa bilang ‘rukun agawe santosa’ (Rukun/Bersatu itu menjadikan kita kuat/senrausa) Begitu pula sebaliknya saat kami merayakan Hari Natal di Katedral, ‘maka umat Masjid Istiqlal berbondong-bondong membantu apa yang mereka harus bantu’, Tindak sosial budaya ini memang menjadi kebutuhan kita bersama demi perdamaian dunia. tambah Gregorius dengan nada gembira.’

Ornamen MuseumBelum semua orang tahu di Gereja Katedral menyimpan berbagai ornamen keagamaan dalam bentuk benda-benda lama yang masih bisa berkisah. Benda-benda kuno bersejarah itu tersimpan disebuah ruang atas (balkon tingkat tiga) Gereja Katedral Jakarta. Ruang yang dianggap memadai itu pantas sebagai �Museum� yang memajang berbagai ragam jenis benda terutama yang berkaitan dengan sejarah keagamaan khususnya perkembangan Katolik di Indonesia.

Pastor Kurriss SJ

Bagi Pastor Rudolphus Kurris SJ mendirikan Museum Katedral Jakarta dipandang penting untuk mengingatkan kita semua yang masih diberi umur panjang oleh Tuhan. Terutama generasi penerus bangsa untuk dapat memahami sejarah masa lalu. Mengingat generasi masa kini kurang memahami apa sebenarnya yang pernah terjadi atau pernah dilakukan oleh para leluhur mereka yang sudah tiada.

Memahami arti benda kuno bersejarah itu sama halnya memahami atau mengetahui perjalanan sejarah zaman lampau sehingga kita dapat memetik pesan dan apa yang mesti kita lakukan. Zaman yang terus menggelinding tergerus oleh perjalanan kehidupan dari satu abad keabad berikutnya. Maka pada tanggal 28 April 1991, pendirian Museum yang diprakarsai Pater Rudolf Kurris ini diresmikan oleh Mgr Julius Darmaatmadja SJ. Museum Katedral itu terletak di balkon (tingkat 3) sejak itu banyak dikunjungi umat dari berbagai kalangan. Dari anak-anak sekolah hingga masyarakat umum. Tidak terbatas untuk umat Katolik tetapi terbuka bagi masyarakat atau umat penganut agama apapun. Termasuk warga Muslim, Budha, Hindu, dll.

Museum ini didirikan berawal dari rasa cinta Pater Kurris terhadap sejarah dan benda-benda yang mengandung kesejarahan penting lainnya. Menurutnya benda-benda bersejarah ini dapat membangkitkan rasa kagum manusia terhadap masa lampau dan keinginannya menyalurkan pengetahuan dari generasi kegenarasi berikutnya.

Bermacam benda bersejarah peninggalan masa lampau tersimpan atau dipajang di Museum bukan sekedar untuk kenangan. Bila diteliti secara cermat benda tersebut seolah berkisah kepada kita yang hidup diabad ke-20 hingga abad-abad berikutnya. Benda-benda itu bicara kepada kita dan mengisahkan apa yang terjadi dimasa lampau. Maka goresan yang terdapat pada benda kuno warisan leluhur lama itu dapat dipahami dan diuraikan kepada mereka yang belum mengerti apa sesungguhnya nilai sejarah yang yang pernah berlaku pada masa silam.

Walaupun isi Museum Katedral Jakarta belum selengkap Museum di Eropa, tetapi setidaknya sudah bisa dipahami oleh publik yang sering datang menjenguk benda-benda kuno yang ada di Museum Katedral.

Museum Katedral Jakarta memang tidak seluas dan tidak selengkap isi Museum (Gajah) Nasional, yang terdapat di jalan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Tetapi menyaksikan benda-benda kuno yang terpajang di Museum Katedral Jakarta, boleh diacungi jempol. Selain benda-benda kuno berupa buku-buku, Jubah Uskup model Eropa dan Indonesia, serta benda-benda kuno lainnya seakan mengajak pengunjung menjadi kepingin lebih banyak tahu.

Benda kuno lainnya antara lain yang terpajang meliputi Teks doa berbingkai. Dua versi buku misa berbahasa Latin yang digunakan pada masa pra Vatican II, – Mitra dan tongkat Gembala Paus Paulus VI – Piala dari Kasula Paus Yohanes Paulus II – Replika Pastoran – Perangko – Lukisan dari batang pohon pisang karya Kusni Kasdut – Replika Perahu Pastor P Bonnike SJ – Relikui Santo & Santa – Orgel Pipa asli Katedral – , dll.

Lukisan karya Kusni KasdutKusni Kasdut, orang yang pernah membobol Museum Nasional (Museum Gajah), sekitar 1970-an, meninggalkan kenangan hidupnya berupa lukisan yang menggunakan media batang pohon pisang diatas kanvas triplek.

Suatu ketika dimalam hari yang sepi, Kasdut menangkap bayangan berwujud Katedral setelah dibaptis di penjara Cipinang, Jakarta Timur. Malam itu juga Kusni Kasdut mengambil media lukis sederhana yang banyak ditemukan dipinggiran kebon pisang. Lantas dengan kreasinya yang unik itu Kusni Kasdut menggambar sosok bangunan Gereja Katedral Jakarta. Memang lukisan itu dibuat oleh Kusni Kasdut dengan tempo relatip cepat. Medianya pun bukan dari cat minyak atau cat air, yang digoreskan diatas kanvas kain. Melainkan dari bahan yang mudah didapat dengan mudah.

Lukisan tersebut hingga kini terpajang didinding Museum Katedral Jakarta. Banyak diantara pengunjung Museum yang terkesimak sekaligus tertarik melihat lukisan tersebut. Pasalnya Kusni Kasdut yang boleh dikatakan pernah melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Dia disebut sebagai oang yang lupa daratan. Lupa tata krama, tata hukum yang berlaku dinegeri ini dan lupa ajaran agama yang dianutnya. Dia disebut manusia kasar dan beringas. Tetapi dia juga menyimpan perasaan halus dan punya kepekaan nilai seni yang tinggi. Ada juga nilai budi pekerti yang masih dimiliki. Terbukti juga memiliki curahan ekspresinya keseniannya yang bagus. Curahan ekspresi seni itu kemudian berkembang diatas bidang kanvas, dan mampu melahirkan karya seni lukis yang mengandung nilai artistik.

Kini beberapa ruangan bagian dalam Gereja Katedral, sedang dilakukan perbaikan dan dibersihkan. Termasuk sejumlah deretan kursi panjang yang mulai keropos alias rusak sulaman rotannya. Memungkinkan kurang nyaman bila digunakan umat yang sedang khusuk berdoa. Benda-benda tersebut terganggu oleh iklim Jakarta yang menyengat. Dan lagi ruangan Museum belum sempat tersentuh alat pendingin udara (AC). Sehingga sempat mengganggu dan merusak benda-benda kuno yang dipajang di Museum. Beberapa tahun ini sengatan iklim panas Jakarta memang dirasakan cukup menyengat. Dampak sengatan iklim panas ini juga memungkinkan sejumlah benda-benda lainnya seperti benda warisan kuno bersejarah yang dipajang di Museum terkena dampaknya. Tetapi menurut Gregorius, semua ruangan bagian dalam Gereja dan Museum kini sedang dalam perbaikan. Diupayakan sebelum perayaan Natal 2013 dan Tahun Baru 2014 tiba, diharapkan seluruh ruangan bagian dalam Katedral Jakarta, sudah bersih dan bahkan bersinar. (Hend & vina) ***