Yang Unik dan Menarik CAGAR BUDAYA LUAR BATANG

Yang Unik dan Menarik CAGAR BUDAYA LUAR BATANG

Beberapa abad silam, Kampung Baru, bekas areal tanah rawa itu tak ada apa-apanya. Baru ketika Alhabib Husein bin Abubakar Alaydrus, tinggal disana, suasana menjadi lain. Bahkan pemerintah kolonial Belanda curiga dan ketakutan karena agama Islam berkembang biak di wilayah kekuasaannya. Pada zaman itu VOC ( erenignde Ost Indiche Compagny, Belanda) menguasai Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia. Kala itu Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan sentra bisnis rempah-rempah. Bahkan kapal dagang lainnya dari Timur Tengah, Portugis, China dll, ikutan mewarnai keramaian pelabuhan terbesar di Nusantara itu.

Tak disengaja peta dagang ini membuka cakrawala budaya gaul ‘barat-timur’. Setidaknya ikutan menambah kekayaan khasanah budaya pribumi Betawi. Jaring komunitas orang asing terus merembes keperkotaan. Belanda menguasai wilayah pusat Batavia yang dikenal wilayah Weltevreden. Komunitas Arab mewarnai nama-nama kampung di Betawi, seperti kampung Kauman (berkumpul atau berkaum-kaum diseputar Masjid) Ada Gang Baysah, kampung Alaydrus, kampung Koja, dll sambil menularkan kesenian bernuana Islami. Orang China menguasai pusat perniagaan Glodok, Pinangsia, Pintu Besar, Pintu Kecil, sampai wilayah Tangerang. Komunitas Portugis, di kampung Tugu, Betawi bagian utara memperkenalkan Kroncong asli dari negerinya. Lantas pribumi Betawi menyebut Kroncong Tugu karena komunitas Portugis tinggal di kampung Tugu, Jakarta Utara.

Di jaman lampau ‘Kampung Baru’ yang sekarang disebut Kampung Luar Batang, tidak ada apa-apanya. Sebidang tanah bekas areal tanah rawa tak bertuan itu menakutkan. Orang menyebutnya tempat ‘jin buang anak’. Tidak disangka setelah kedatangan Al Habib Husein bin Abubakar Alaydrus, tempat itu membawa kesegaran. Habib Husein dikenal sebagai Syiar (penyebar agama Islam). Lahir di kota Al-Ma’iqab, Hadhramaut, Yaman Selatan, Di areal tanah rawa hadiah dari Gubernur Batavia yang murah hati itulah, ia membangun tempat ibadah (Masjid) dan rumah tinggalnya. Sejak itu banyak pribumi yang tertarik tinggal disitu. untuk menimba ilmu tentang ajaran Islam.

Sebidang tanah bekas rawa-rawa yang mulanya bernama Kampung Baru, mulai mencorong. Seperti ada kilatan-kilatan cahaya yang menakjubkan. Riwayat lama menyebutkan, Habib Husein tercatat sebagai cikal bakal Kampung Luar Batang, yang hingga kini diyakini masih menyimpan energi. Karena Alhabib Husein diyakini sebagai orang suci yang memiliki kelebihan dan sulit ditandingi orang biasa. Semasa hayatnya gigih menyampaikan pesan moral melalui Khotbah-Khotbahnya mampu menembus jantung hati tiap jamaah. Sejak itu pula ia dipercaya lantaran memancarkan cahaya, bak mercu suar yang mengisyaratkan adanya hubungan manusia dengan Tuhannya. Ia mengajak umat Islam untuk taat kepada Sang Khalik.

Habib Husein, dikenal sebagai pengembara syiar Islam yang paling tangguh, cerdas dan berpengaruh. Dakwahnya di depan pengikutnya menunjukan betapa hebatnya Sang Wali Allah yang berjuang demi tegaknya Islam dimana pun. Awal pertama pengembaraannya dengan menumpang kapal dagang dari Timur Tengah menuju daratan India. Tepatnya di kota Surati, atau dikenal Gujarat. Kendati mayoritas penduduk wilayah itu pemeluk agama Hindu, namun bukan halangan untuk menyebarkan Islam.

“Janganlah takut dan berkecil hati, apa pun akan kuhadapi”, kata hati Habib Husein. Dengan bertaqwa kepada Allah, dan sesungguhnya Ia bersama kita. Maka mulailah Habib Husein menjalankan misinya sebagai syiar Islam di Gujarat. Ternyata memang, kedatangan Habib Husein di kota Surati membawa Rahmatan lil-Alamin. Surati adalah kota mati tandus dan kering. Rata-rata penduduknya hidup dalam kemiskinan, dan sering dilanda wabah kolera. Tetapi berkat kebesaran Allah, kota mati itu berubah menjadi daerah subur makmur sejahtera. Agama Islam pun berkembang pesat disana.

Beberapa lama kemudian Habib Husein melanjutkan misi hijrahnya menuju Asia Tenggara. Ia tiba di pelabuhan Sunda Kelapa, pulau Jawa dan menetap di kota Batavia (Betawi). Tepatnya di bekas tanah rawa, yang diberi nama Kampung Baru. Di Kampung itulah tempat persinggahan terakhir dalam mensyiarkan Islam. Dan Masjid yang didirikannya menjadi pusat pengembangan ajaran Islam, yang mendapat perhatian besar diminati pengunjung. Mereka tak hanya datang dari kota-kota di pulau Jawa, dan daerah lainnya, bahkan mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, bahkan dari benua Eropa, Afrika, dan Amerika. Mereka datang untuk belajar agama Islam dan minta didoakan.

Tumbuh kembangnya Islam di wilayah jajahan bangsa kulit putih Belanda, menjadikan pemerintah kolonial khawatir dan takut. Kekhawatiran itulah berujung dengan ditangkapnya Habib Husein dan sejumlah pengikutnya, kemudian dijebloskan di penjara Glodok Seksi Lima. Di dalam penjarapun Habib Husein, tampil sebagai Imam. Nama Kampung Baru, menjadi terkenal, bahkan lebih bersinar setelah Habib Husein menutup lembaran hidupnya dalam usia muda. Popularitas Kampung Baru, yang berubah namanya menjadi Kampung Luar Batang kian banyak diminati pengunjung dari berbagai penjuru tanah air bahkan luar negeri. Pasalnya saat Habib Husein wafat pada tanggal 24 Juni 1756, terjadi Karomah atau keajaiban luar biasa.

Walaupun ‘Karomah’ itu berlawanan dengan hukum ilmiah. Tetapi diyakini, Karomah merupakan kehendak Allah SWT. Jenazah Habib Husein, keluar dari dalam keranda (kurung batang) dan tidak seorang pun melihat kemana jenazah Habib Husein itu menghilang. ‘Kun Faya Kun’ (Bila Allah menghendaki maka terjadilah) Itulah sesungguhnya kehendak Illahi telah ditunjukan kepada kita semua. Di jaman kolonial Belanda berkuasa, tiap orang asing yang meninggal harus dimakamkan di pemakaman khusus, Tanah Abang. Aturan itu tidak dapat diganggu gugat. Oleh karenanya, jenazah Habib Husein, yang berasal dari Hadhramaut, harus dimakamkan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Dikisahkan, telah terjadi ‘Karomah’, ketika jenazah Habib Husein diusung dari Kampung Baru, Batavia bagian utara menuju pemakaman khusus orang asing, di pemakaman Tanah Abang (Batavia pusat), muncul keajaiban atau keanehan luar biasa. Setiba di pemakaman Tanah Abang, jenazah Habib Husein tidak ditemukan di dalam Kurung Batang (Keranda). Jenazah Habib Husein keluar dari Kurung Batang tanpa dilihat mata para pengusung jenazah. Dan ternyata jenazah Habib Husein kembali ke Masjid di Kampung Baru, Pengantar jenazah cemas dan bingung. Ternyata jenazah Habib Husein berada di dalam Masjid. Pengantar jenazah mencoba mengusung kembali jenazah Habib Husein menuju pemakaman Tanah Abang. Lagi-lagi tiap kurung batang tiba ditempat tujuan ternyata kurung batang (keranda) itu kosong-melompong. Ternyata jenazah Habib Husein pulang kembali ketempat tinggalnya Keajaiban itu terjadi beberapa kali. Akhirnya pemerintah kolonial mengizinkan, jenazah Habib Husein, dimakamkan di Masjid dekat rumah tinggalnya di Kampung Baru.

Kabar keluarnya jenazah dari kurung batang dan ternyata selalu kembali ke tempat semula adalah Kehendak Allah Yang Maha Agung. Peristiwa aneh itu segera tersiar kemana-mana. Itulah sesungguhnya kuasa Allah yang menghendaki jenazah Habib Husein, dimakamkan di Masjid. Sejak itu nama Kampung Baru dikenal sebagai ‘Kampung Keramat Luar Batang’. Banyak penduduk pribumi mau pun warga ketrunan China ziarah ke Makam Alhabib Husein bin Abubakar Alaydrus, di Masjid dan Makam Keramat di Kampung Luar Batang. Dengan harapan agar usahanya sukses.

Pemda DKI Jakarta memugar tempat yang diyakini keramat dan bersejarah itu sebagai ‘cagar budaya’. Memasuki ‘cagar budaya’ yang dibangun dengan fashad sederhana, menarik tetapi akrab dengan pemeluk Islam darimana pun mereka datang. Masjid berarsitek gaya Eklektik Moor – Islam Jawa, dilindungi SK Mendiknas No 0128/M/1998. Pintu gerbang menuju Masjid menganga lebar dan pemandangan Menara Masjid yang menjulang, memberikan catatan yang mengesankan. Di dalam Masjid terdapat makam dengan tulisan ‘Walijallah Husein bin Abubakar bin Abdillah Al Aydrus, yang wafat pada hari Kamis 17 Puasa 1169. Satu lagi makam seorang China Muallaf Muslim bernama H. Abdul Kadir pengikut setia Habib Husein. Hingga saat ini peziarah datang tak henti-hentinya untuk berdoa, dzikir dan minta kepada Yang Maha Kuasa, agar diberikan keselamatan, kesembuhan dan rezeki bahkan kenaikan pangkat. Tidak sedikit peziarah yang menginap disana.

Pengelola Maqam, Mutawalli (Sesepuh Makam), menjelaskan sampai sekarang setiap malam Jumat Kliwon, Masjid ramai dikunjungi peziarah. Sebagian mereka datang dari Malaysia, Singapura, Brunei, Filiphina, Irak dan Iran. Untuk menyemarakkan suasana, kami menggelar musik rebana biang atau rebana hadroh, tutur generasi kelima Habib Husein di Masjid. Suasana Masjid menjadi lebih ramai saat Ramadhan tiba. Hidangan khas Betawi bercita rasa Arab (Yaman Selatan, Hadhramaut) disajikan kepada seluruh peziarah. Dari nasi kebuli, kurma, halwa (sejenis dodol), minuman selasih, pacar cina, dan es kelapa muda menjadi hidangan pembuka puasa.

Puncak keramaian makan besar di Masjid ini berlangsung setiap memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, serta hari wafatnya (Haul) Habib Husein tanggal 17 Ramadhan 1169 H, peringatan Haul biasa diselenggarakan setiap tahun di Minggu Terakhir di bulan Syawal dan pada saat itu Ibu Fatma (85 tahun) dan timnya memasak nasi kebuli hingga 40 kuali ukuran besar, untuk 5000 peziarah, ungkap Mutawalli (Sesepuh Makam). Selain makan besar, setiap Ramadhan, pengelola Masjid bersama sejumlah pengelola Masjid tua lainnya, menyelenggarakan tradisi Khatam Quran scara bergiliran. *** (Tim TI / HF)